<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>donaniagaradinatawall</title>
	<atom:link href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com site</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Oct 2011 18:04:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='donaniagaradinatawall.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/b874ffc557cf38b6c86353a9bb979ada?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>donaniagaradinatawall</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/osd.xml" title="donaniagaradinatawall" />
	<atom:link rel='hub' href='http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kritik Atas Kontrak Kesepakatan Kewajiban Moral Dalam Deklarasi Universal  Hak Asasi Manusia</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/kritik-atas-kontrak-kesepakatan-kewajiban-moral-dalam-deklarasi-universal-hak-asasi-manusia/</link>
		<comments>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/kritik-atas-kontrak-kesepakatan-kewajiban-moral-dalam-deklarasi-universal-hak-asasi-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 18:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>donaniagaradinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Kritik Atas Kontrak Kesepakatan Kewajiban Moral Dalam Deklarasi Universal  Hak Asasi Manusia Oleh Dona Niagara Dinata Menyoal moralitas akan berhubungan dengan putusan etis. Putusan etis adalah putusan yang menyangkut nilai – nilai dalam moralitas. Secara teoritis, Putusan etis akan dipengaruhi &#8230; <a href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/kritik-atas-kontrak-kesepakatan-kewajiban-moral-dalam-deklarasi-universal-hak-asasi-manusia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=37&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Kritik Atas Kontrak Kesepakatan Kewajiban Moral Dalam Deklarasi Universal  Hak Asasi Manusia</strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh Dona Niagara Dinata<br />
</strong></p>
<p align="center">
<p>Menyoal moralitas akan berhubungan dengan putusan etis. Putusan etis adalah putusan yang menyangkut nilai – nilai dalam moralitas. Secara teoritis, Putusan etis akan dipengaruhi beberapa faktor, antara lain nilai dan kepercayaan pribadi, kode etik yang berlaku dilingkungan khusus di mana ia berada, dan konsep moral yang berlaku secara menyeluruh dan dianggap universal. Putusan etis dalam perkembangannya tidak luput tercampur dengan keputusan pragmatis, apa yang disebut dengan etis lebih banyak kemudian terkonstruksi dengan hal yang pragmatis yang dirasionalkan.</p>
<p>Dalam perkembangan pembahasan etika, muncul istilah deontologi.  Istilah deontologi ini dicetuskan oleh filsuf Jerman, Immanuel Kant. Kant menyebutkan konsep deontologi dalam teori etika  yang dibangunnya. Deontologi berasal dari kata Yunani “<em>deon</em>” yang berarti apa yang harus dilakukan, yaitu berupa kewajiban. Kant menilai tindakan manusia absah secara moral apabila tindakan tersebut dilakukan berdasarkan kewajiban (<em>duty</em>) dan bukan akibat. Tindakan yang dilakukan harus berdasarkan  kewajiban moral bukan , dan bukan pula berlandaskan pada harapan hasil akhir berupa pamrih. Tindakan moral yang berlangsung begitu saja tanpa tujuan dan maksud apapun keculai kewajiban perbuatan baik itu sendiri disebut Kant sebagai imperative kategoris. Manusia memiliki otonomi didalam sikap moral. Otonomi manusia hanya dimungkinkan apabila manusia bertindak sesuai dengan imperatif kategoris yang mewajibkan tanpa syarat apapun. Berkenaan dengan apa yang dikemukakan oleh Kant, ia juga mencoba menguniversalkan dengan beranggapan bahwa, perbuatan moral yang tepat adalah ketika perbuatan tersebut bisa berlaku universal untuk semua hal serupa di manapun dan kapanpun.</p>
<p>Penjelasan Kant mengenai deontologi dan universalitas keputusan etis yang tepat tersebut pada akhirnya akan terarah  pada seperangkat norma. Norma atau aturan yang dibuat tersebut adalah norma yang menjadi bagian dari kontrak kesepakatan dalam masyarakat. Kontrak kesepakatan itu kemudian menjadi acuan dalam prilaku relasi sosial masyarakat. Kesepakatan itu disebut sebagai kontrak sosial. Aktivitas yang masyarakat diatur dalam kontrak sosial sebagai salah satu usaha untuk menjaga keteraturan. Pola pikir yang mengedepankan perlunya kesepakatan dalam bentuk kontrak sosial dalam masyarakat disebut sebagai aliran kontraktualisme.</p>
<p>Kontraktualisme mengandung syarat adanya deliberasi kepentingan dari angota yang terlibat dalam kelompok masyarakat tersebut. Kontraktualisme ini diusung oleh beberapa filsuf antara lain seperti J. Rawls, Hobbes, dan tokoh kontrak sosial lainnya. Pada masa klasik, menurut Saphiro, kontraktualisme yang berlaku adalah kontraktualisme yang bersifat konkretis di mana masyarakat berkumpul untuk menyatukan apa pertimbangan moral untuk menyusun aturan dalam kontrak. Sedangkan pada masa sekarang, kontraktualisme yang berlaku adalah kontraktualisme hipotesis, di mana rakyat tidak berkumpul tetapi rasionalitas itulah yang bekerja untuk menentukan mana yang bisa diuniversalkan dan mana yang tidak.</p>
<p>Kontraktualisme mengandaikan bahwa masyarakat dapat hidup dengan teratur dan tenteram dengan adanya aturan yang telah disusun bersama. Akan tetapi hal tersebut semakin menjadi utopis ketika mulai diterapkan dalam kehidupan praktis. Kontraktualisme yang berlaku sekarang adalah kontraktualisme hipotesis di mana tidak ada lagi pertemuan menyeluruh secara utuh untuk menyatukan pertimbangan moral bersama.  Kontrak yang berlaku adalah kontrak yang dinilai baik oleh sebagian orang yang notabene merasa diberikan amanat untuk mewakili sejumlah kepentingan masyarakat. Penentuan isi dari kontrak ditentukan dari landasan rasionalitas yang menimbang bahwa suatu nilai dapat diterapkan secara universal.</p>
<p>Salah satu contoh kontrak sosial yang diberlakukan secara umum di dunia ini adalah Deklrasi Universal Hak Asasi Manusia ( DUHAM ). Sebuah deklarasi yang ditandatangi oleh 48 dari 58 negara pada tahun 1948, pada saat Perserikatan Bangsa-Bangsa berusia tiga tahun. Saat ini dikatakan bahwa ada 30 pasal yang ada dalam deklarasi ini telah mewakili prinsip – prinsip berbagai tradisi di dunia.  DUHAM ini dibuat berdasarkan prinsip kemanusiaan, moralitas sebagai manusia kepada manusia lain. Prinsip yang terkandung dalam DUHAM disusun berdasarkan pengalaman kemanusiaan dan menggunakan rasionalitas untuk menguji keuniversalan dari prinsip tersebut.</p>
<p>Universalitas yang terjadi di sini akan mengerucut pada budaya monolitik dalam bertindak. Kontraktualisme berupaya pula agar prinsip yang tersusun merupakan prinsip yang berisfat umum. Apakah hal tersebut benar – benar dapat dijalankan ? Jaminan agar peraturan dalam kontraktualisme tersebut dapat berlaku tepat secara moral tidaklah dapat dikatakan valid. Perangkat yang digunakan adalah rasionalitas. Rasionalitas yang digunakan di sini perlu dipertanyakan kembali, rasionalitas seperti apa yang dipergunakan.</p>
<p>Rasionalitas perlu diungkit kembali dalam permasalahan moralitas, terutama moralitas yang telah ditransformasi menjadi seperangkat aturan untuk parameter tindakan moral yang lain. Rasional adalah seperangkat sistem pikiran manusia yang dianggap dapat menuntun manusia menuju pertimbangan nilai yang paling tepat. Hal   yang tidak pula boleh dilupakan adalah rasional dapat digunakan untuk menjadi jalan pembenaran akan sebuah kepentingan. Rasionalitas dapat meluruskan jalan yang sebenarnya tidak tepat. Rasionalitas dapat dipakai untuk mencari alasan untuk mencapai suatu tujuan yang memang diinginkan.</p>
<p>Praktik penggunaan rasionalitas dalam keputusan moral untuk mencari keberlakuan yang universal dalam praktiknya bukan selalu murni untuk kepentingan nilai moral itu sendiri. Akan tetapi juga dilatarnelakangi pada berbagai faktor. Subjek rasional yang melakukan tindakan rasional dalam memilih prinsip universal. tersebut adalah subjek yang melekat pada kesejarahan. Subjek tersebut bukan subjek bebas. Ada kesejarahan yang turut campur dalam penentuan arah dan jalan pemikirannya tersebut. Faktor yang lain kebutuhan situasional.</p>
<p>DUHAM yang telah dirancang oleh PBB dan dideklarasikan sebagai hak universal juga masih mengandung ketidaksempurnaan. Pembuatan DUHAM tersebut memang bertujuan sebagai suatu hal yang baik, yaitu untuk melindungi hak yang dimiliki manusia dan sebagai referensi tindakan moral. Sifat moralitas termbimbing ini menjadi salah satu bentuk penyadaran dan pengetahuan. Hal yang paling penting lainnya adalah DUHAM dideklarasikan dengan nilai – nilai yang didasarkan pada pemikiran Barat( <em>West Thinking ) </em>, didasarkan pada banyak kasus yang terjadi di dunia barat pada intinya.</p>
<p>Hal yang ingin dikritik di sini bukan kritik mengenai permasalahan hegemoni atas suatu pandangan nilai terhadap nilai lain, tetapi lebih kearah bagaimana jika suatu nilai ternyata telah dikontruksi menjadi seperangkat aturan yang diakui sebagai sebuah kontrak yang mengikat semua secara menyeluruh orang di dalamnya tanpa terkecuali malah akan mereduksi nilai dari moralitas itu sendiri. Universalitas dari DUHAM telah mereduksi apa yang disebut sebagai nilai moralitas itu sendiri. Dalam kata lain, pembuatan aturan mengenai moralitas sebenarnya merusak kemurnian dari nilai moralitas itu sendiri.</p>
<p>Dalam etika deontologi, terdapat sebuah maksud bahwa prilaku etis harus diputuskan karena merupakan sebuah kewajiban. Deontologi yang dimaksud oleh Kant adalah putusan yang bersifat otonom. Bukan merupakan bentuk kepatuhan terhadap seperangkat peraturan moralitas. Keputusan etis yang diambil bukanlah sebuah keputusann yang merupakan kewajiban dikarenakan aturan main yang mewajibkan. DUHAM sebenarnya adalah semacam aturan main yang mengatur tindakan manusia, dan diuniversalkan kepada satu dunia.</p>
<p>Manusia memiliki sebuah kemampuan tertinggi dalam membuat keputusan moral, yaitu intuisi. Salah satu filsuf dalam aliran intuisionisme ini adalah Henry Bergson. Menurut Bergson, intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika terhadap sesuatu. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Apa yang dihasilkannya merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh indrawi. Intuisi bukanlah sebuah rasionalitas, tapi gagasan seketika untuk menyatakan sesuatu tepat atau tidak. Apa yang digagas dalam intuisi ada kemungkinan adalah bagian dari apa yang diketahui, akan tetapi tidak luput pula intuisi dapat menjadi detektor sesuatu yang ganjil dalam pengetahuan yang melandasi rasionalitas.</p>
<p>Kemampuan intuisi merupakan kemampuan yang semestinya tetap dipertahankan keberadaannya. Pembuatan DUHAM sebenarnya merupakan sebuah reduksi atas intuisi manusia atas penilaian apa-a[a saja yang menjadi nilai – nilai hak asasi manusia. Jika disadari bahwa hak asasi manusia adalah hak alamiah setiap manusia, maka sebagai manusia dengan sendirinya intuisi akan mengatakan bahwa pelanggaran terhadap hak alamiah tersebut adalah salah. DUHAM bukanlah sebuah patokan moralitas, tetapi tidak lebih dari seperangkat peraturan. DUHAM bukan patokan untuk menyatakan nilai kemoralan atas nama kemanusiaan suatu tindakan, akan tetapi sebagai patokan untuk menyatakan sebuah tindakan telah melanggar peraturan yang dibuat. Keberlakuan universalitas DUHAM tersebut juga mesti dipertanyakan, universalitas tidak bisa diterapkan dalam banyak kasus partikulat. Universalitas hanya sebuah model ideal, bukan patokan satu-satunya.</p>
<p>Ketika keputusan etis dilakukan karena pertimbangan terhadap aturan, maka hal tersebut bukan lagi disebut sebagai putusan etis. Akan tetapi merupakan sebuah keputusan yang merupakan kepatuhan akan peraturan yang telah ada. Penghargaan terhadap apa yang termaktub dalam DUHAM tersebut tidak lain adalah bentuk ketakutan akan kecaman dengan predikat tidak bermoral sebagai pelaku kejahatan kemanusiaan, dan itu bukanlah tindakan etis. Tindakan etis adalah tindakan yang murni tergagas karena memang dirasakan hal tersebut tidak tepat, bukan karena peraturan.</p>
<p>Hal yang paling tepat untuk menghasilkan pertimbangan moral yang efektif adalah putusan etis situasional. Situasional di sini maksudnya mempertimbangkan sumbangsih intuisi, rasionalitas, kesejarahan subjek yang menilai. Peraturan yang dijadikan kontrak hubungan moral diposisikan sebagai masukan pengetahuan, bukan sebagai patokan tindakan. Putusan etis tidak ditentukan oleh aturan yang ada, bukan mempertimbangkan aturan, tetapi rasionalitas dan intuisi moral murni tanpa ada kepentingan yang menunggangi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bahan Bacaan :</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Buku</span></strong></p>
<p>-          Suseno, Franz Magnis. 1997. <em>13 Tokoh Etika. </em>Yogyakarta : Penerbit Kanisius.</p>
<p>-          Trianita, Hendriati. 2000. <em>Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Panduan Bagi Jurnalis (terj.) </em>Jakarta : Lembaga Studi Pers dan Pembangunan.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Artikel Internet</span></strong></p>
<p>-          Artikel <em>Intuisionisme</em> , dibuat oleh Mirsi Nira. Dimuat di <a href="http://thebookofphylosoph.blogspot.com/2010/06/intuisionisme.html%20waktu%20akses%20%2014%20Oktober%202011%20pukul%209.30">http://thebookofphylosoph.blogspot.com/2010/06/intuisionisme.html waktu akses  14 Oktober 2011 pukul 9.30</a> WIB</p>
<p>-          Artikel yang dibuat berdasarkan diskusi buku <em>Asas Moral Dalam Politik </em>yang diselenggarakan oleh Freedom Institute, dimuat di  <a href="http://www.assyaukanie.com/discussion/asas-moral-dalam-politik">http://www.assyaukanie.com/discussion/asas-moral-dalam-politik</a>  waktu akses 14 Oktober 2011 pukul 09.15 WIB</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=37&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/kritik-atas-kontrak-kesepakatan-kewajiban-moral-dalam-deklarasi-universal-hak-asasi-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0893f2e84a05256d2d4806dfcb5bed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">donaniagaradinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KESADARAN Mind DALAM “KETAKSADARAN” Body DALAM FENOMENA -NDE -(Near Death Experience)</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/kesadaran-mind-dalam-%e2%80%9cketaksadaran%e2%80%9d-body-dalam-fenomena-nde-near-death-experience/</link>
		<comments>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/kesadaran-mind-dalam-%e2%80%9cketaksadaran%e2%80%9d-body-dalam-fenomena-nde-near-death-experience/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 09:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>donaniagaradinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[KESADARAN Mind DALAM “KETAKSADARAN” Body DALAM FENOMENA -NDE -(Near Death Experience) ( Pembahasan Dikotomi Mind dan Body  Dengan Menggunakan Perantara Penjelasan Kesadaran dan Ketaksadaran ) Oleh Dona Niagara Dinata,   Pendahuluan Permasalahan ketidaksadaran (baca: bawah sadar) telah dimunculkan secara tidak &#8230; <a href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/kesadaran-mind-dalam-%e2%80%9cketaksadaran%e2%80%9d-body-dalam-fenomena-nde-near-death-experience/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=34&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>KESADARAN <em>Mind</em> DALAM “KETAKSADARAN” <em>Body</em> DALAM FENOMENA -NDE -(<em>Near Death Experience)</em></strong></p>
<p align="center"><strong>( </strong>Pembahasan Dikotomi <em>Mind </em>dan <em>Body </em> Dengan Menggunakan Perantara Penjelasan Kesadaran dan Ketaksadaran )</p>
<p align="center"><strong>Oleh Dona Niagara Dinata,<br />
</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ol start="1">
<li><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p>Permasalahan ketidaksadaran (baca: bawah sadar) telah dimunculkan secara tidak disadari pula oleh sebuah narasi dalam mitologi Yunani, yaitu dalam cerita Oedipus.   Ketika permasalahan ketidaksadaran dimunculkan melalui ketidaksadaran yang kemudian disadari, akan menimbulkan pertanyaan benarkah ketaksadaran tersebut ada? Atau ketaksadaran tersebut tidak lain adalah sebuah  sebuah rekayasa dari kesadaran yang menyadari sebuah pengalamannya. Namun terlepas dari pokok permasalahan itu, penjelasan dan pembahasan mengenai ketaksadaran telah berlangsung dan mengalami banyak perkembangan, dan dimulai dari studi psikoanalisis dari Sigmund Freud, psikoanalisis dari Freud ini menjelaskan sebuah fenonema represi atas sebuah sebuah pengalaman ataupun keinginan yang kemudian direpresi ke zona tak sadar, represi yang dimasukkan kedalam zona ketidaksadaran tersebut sewaktu-waktu akan dimunculkan, baik dalam prilaku sehari-hari (ex. Salah ucap), proyeksi mimpi, dan tindakan yang dilakukan secara “tidak-sengaja”. Fenomena ketaksadaran yang dimunculkan dalam psikoanalisis Freud, banyak membantu dalam studi psikologis, namun ada sebuah permasalahan ketaksadaran yang tidak dapat diteropong begitu saja dalam kerangka psikoanalisis Freud, di mana ketaksadaran yang dibahas adalah sebuah ketaksadaran yang memisahkan <em>mind </em>sebagai sesuatu yang bersifat mental dengan <em>body </em>yang bersifat fisik, yaitu fenomena NDE ( <em>Near Death Experience</em> ) , di Indonesia dikenal sebagai fenomena mati suri.</p>
<p>Istilah <em>Near Death Experience</em> (NDE) dicetuskan pertama kali oleh Raymond Moody pada tahun 1975 dalam buku “Life after Life”  (Moody, 1976). Buku ini merupakan buku pertama dalam studi tentang NDE di seluruh dunia. Istilah NDE dipilih, setelah Moody melakukan wawancara dengan 150 orang yang menceritakan suatu pengalaman yang disebutnya “pengalaman mendekati kematian” (Near Death Experience atau NDE). Pengalaman dalam NDE tersebut dengan kata lain disebut sebagai pengalaman saat “mati”.  Yang perlu ditelusuri dan ditelaah dalam apa yang terjadi dalam NDE ini adalah sebuah bentuk dari adanya dikotomi antara <em>Mind </em>dan <em>Body</em> , dikotomi yang disuguhkan melalui perantara pembahasan mengenai kesadaran dan ketidaksadaran. Pembahasan mengenai kesadaran dan ketaksadaran di sini akan memiliki banyak perbedaan dengan ketaksadaran yang dibahas dalam Psikoanalisis Freud, ketaksadaran yang akan dibahas di sini bukan sebuah bentuk hasil dari represi yang kemudian dimunculkan dalam prilaku sadar, tetapi ketidaksadaran yang akan dibahas dalam NDE ini adalah sebuah ketidaksadaran yang berupa pengalaman yang disadari. Ketaksadaran yang diangkat adalah bagaimana bentuk definisi ketaksadaran yang dianut dalam dunia kedokteran klinis terlihat begitu menegaskan adanya dikotomi antara <em>Mind </em>dan <em>Body</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B.     </strong><strong>Analisis Atas Dikotomi <em>Mind </em>dan <em> Body </em>Dalam Fenomena Kesadaran Dalam Ketaksadaran <em>Body </em> Dari Peristiwa NDE ( <em>Near Death Experience </em>)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Near Death Experience </em>merupakan sebuah fenomena di mana adanya sebuah pengalaman yang disadari dalam ketidaksadaran manusia secara fisik. Ketidaksadaran yang dimaksud di sini bukanlah dalam kondisi tertidur, namun suatu kondisi dimana fungsi dari tubuh dan otak bukanlah istirahat, namun memang tidak berfungsi (atau tidak terlalu berfungsi). Subjek yang tidak berkesadaran yang dimaksud di sini adalah subjek yang telah dinyatakan mati secara klinis oleh dokter. Mati klinis adalah kondisi dimana nafas dan denyut jantung seseorang berhenti tapi masih memungkinkan untuk diaktifkan kembali dengan alat pacu jantung. Mati klinis adalah suatu periode ketidaksadaran yang disebabkan oleh tidak tercukupinya suplai darah ke otak karena sirkulasi darah yang tidak mencukupi, pernapasan atau keduanya. Jadi ketidaksadaran yang dimaksud di sini adalah sebuah ketidaksadaran secara fisik, bukanlah ketidaksadaran yang dimaksud oleh Freud dalam studi psikoanalisisnya.</p>
<p>Peristiwa NDE ini telah mendapatkan perhatian yang cukup besar baik dari kalangan akademisi-ilmuwan, masyarakat non-akademik, dan kalangan spiritualis-religius. Setiap penjelasan mengenai NDE ini, tidak lain akan berakhir pada sebuah penegasan dari dikotomi <em>mind </em>dan <em>body.</em> Dan dikotomi antara <em>mind </em>dan <em>body </em>ini masih merupakan sebuah jawaban sekaligus pertanyaan mengenai bagaimana relasi antara kedua unsur tersebut yang berada di dalam manusia. Dalam pembahasan mengenai NDE ini yang akan menjadi fokus bukanlah pengalaman yang seperti apa yang dialami dan mengapa bentuk isi pengalaman itu yang muncul, yang menjadi fokus pembahasan di sini adalah bagaimana sebuah pengalaman dapat dirasakan oleh manusia yang telah dinyatakan mati secara klinis, namun dalam kondisi seperti itu dia dapat merasakan pengalaman dan kemudian ketika ia “sadar” kembali ia tetap dapat merasakan dan mengingat pengalaman tersebut.</p>
<h6>            Dalam penjelasan dari ilmu kedokteran , NDE diduga sebagai sebuah peristiwa ilmiah yang dapat saja terjadi dalam peluang-peluang dan kondisi – kondisi khusus, kajian ilmiah menjelaskan bahwa NDE merupakan sebuah reaksi sistem sensori otonom pada otak.<br />
Hal itu mengakibatkan individu merasakan kemampuan untuk mengulang semua memorinya mulai dari saat pra-kelahiran hingga menuju kematian. Ilmu kedokteran berusaha menjelaskan bagaimana NDE tersebut dapat terjadi dan bagaimana pula proses yang disebut kematian tersebut terjadi. Penjelasan dari sudut pandang kedokteran dan ilmu empiris ini begitu menekankan adanya reaksi yang bersifat fisik yang memunculkan kondisi NDE tersebut. yaitu  ketika dalam keadaan koma, bagian alam bawah sadar manusia mengaktifkan kesadaran autonom, jika begitu maka dapat dipertanyakan lebih lanjut, apa itu kesadaran autonom, bagaimana bentuk fisik dari kesadaran autonom itu, lantas apa bedanya bawah sadar dan kesadaran autonom. Kemudian pengulangan memori yang kemudian juga mengundang sebuah pertanyaan, memori seperti apa yang dimaksud, bagaimana sebuah sistem fisik yang berupa saraf neuron tersebut dapat menyimpan hal-hal yang bersifat tidak fisik seperti memori tersebut. Ternyata penjelasan secara ilmu empiris eksperimental tersebut tidak dapat menjelaskan NDE tersebut dalam kerangka “TIDAK” memisahkan antara <em>mind </em>dan <em>body. </em> Dalam penjelasan ilmiah mengenai NDE penegasan keterpisahan antara <em>mind </em>dan <em>body </em>semakin tampak jelas. Dalam penjelasan secara ilmiah, kesadaran diidentikkan dengan adanya ke-awasan atau tingkat kewaspadaan diri yang ditandai dengan respon yang diberikan oleh tubuh terhadap stimulus dari luar ataupun menciptakan pergerakan baik yang bermaksud sebagai komunikasi atau pun tidak. Dalam sebuah kejadian “mati” yang biasanya terjadi, tidak akan ada respon yang terjadi yang menunjukkan bahwa manusia tersebut masih berkesadaran, dan vonis “mati” tersebut terjadi dikarenakan ditemukan bahwa batang otak telah berhenti bekerja, maka pada saat itulah  disebut mati.</h6>
<h6>            NDE terdapat dua jenis, yang pertama adalah kondisi di mana seseorang dalam keadaan koma yang memang hampir menuju ajal  dan yang kedua adalah kondisi di mana seseorang benar – benar telah divonis mengalami kematian secara klinis. Namun, dalam kondisi yang manapun NDE tersebut memunculkan permasalahan ketidaksadaran yang sama, yaitu ketidaksadaran yang disadari namun tidak melibatkan aktivitas ketubuhan secara fisik, terutama pada NDE yang pada kondisi ‘mati’ ,  pengalaman menyadari sebuah pengalaman tersebut dapat dikatakan tidak membutuhkan otak. Di sini begitu terlihat sebuah keterpisahan antara <em>mind </em>dan <em>body </em>, keterpisahan antara proyeksi berkesadaran dan fisik otak tersebut.</h6>
<h6>            Menurut pengakuan dari orang – orang yang pernah mengalami NDE ini, mereka mengalami kejadian – kejadian yang mereka sadari dalam ketidaksadaran tubuh mereka, dalam sebuah literatur artikel (yang telah diterjemahkan sebelumnya)  yang di dapat oleh penulis , tertulis :</h6>
<h6>“  <em>Greyson melaporkan adanya 10 persen kasus NDE dari orang-orang yang mengalami gagal jantung dan melaporkan bahwa mereka mengetahui<br />
secara mendetil mengenai kejadian dan kegiatan yang terjadi ketika<br />
dia tidak sadarkan diri. Banyak sekali dari mereka yang menyatakan<br />
bahwa mereka melihat dari atas, diri mereka sendiri diatas meja<br />
operasi sementara para dokter dan perawat sibuk menolongnya. Melalui<br />
sudut pandang ilmiah, aspek terpenting dari kebanyakan kasus NDE<br />
adalah bahwa seharusnya otak manusia tersebut tidak sedang berfungsi<br />
pada saat NDE terjadi. Ada banyak kasus yang terdokumentasi dengan<br />
baik, dimana hasil EEG dan bukti lain menunjukkan bahwa otak tidak<br />
berfungsi, namun orang-orang yang mengalami NDE menyatakan bahwa<br />
mereka pada saat itu mengalami pengalaman &#8216;berfikir&#8217; dengan lebih<br />
jernih daripada biasanya. Pim van Lommel, seorang ahli jantung dan peneliti NDE memberikan<br />
catatan yang menyatakan bahwa ketika NDE terjadi, orang-orang yang<br />
mengalaminya itu tidak hanya memiliki kesadaran, tapi bahkan<br />
kesadarannya itu lebih luas dari biasanya. Mereka dapat &#8216;berfikir&#8217;<br />
dengan lebih jernih, mengalami kenangan tentang kembalinya mereka ke<br />
masa kecil mereka, dan mengalami hubungan yang intens dengan segala<br />
sesuatu dan semua orang disekeliling mereka, padahal otak mereka<br />
tidak menunjukkan aktifitas apapun!” (</em>Jane Bosveld.<em>Will natural science pin-down-our-supernatural-essence?.</em><a href="http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?p=93316&amp;sid=c94c74143552eb590ae848cc48e87561">http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?p=93316&amp;sid=c94c74143552eb590ae848cc48e87561</a> )</h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<p>Kesadaran inilah yang perlu dicermati. Jika <em>mind </em>dan <em>body </em>dianggap sebuah kesatuan yang tak terpisah , bagaimana mungkin sebuah kesadaran muncul dalam ketidaksadaran tubuh. Ketidakhadiran satu elemen tidak akan menghadirkan elemen lainnya, jika menggunakan prinsip kausalitas yang didasarkan pada argumen kesatuan <em>mind </em>dan <em>body</em> di sini akan memunculkan teori identitas, di mana di dalam  teori identitas ini disebutkan bahwa pemunculan dari kejadian mental tidak lain adalah hasil dari apa yang terjadi di otak beserta seluruh prosesnya. Dan anggapan mengenai sifat identitas yang ada antara <em>mind </em>dan<em> body </em>ini tidak dapat diterima dalam fenomena NDE. Dalam teori identitas seharusnya  yang dituntut adalah kehadiran <em>mind </em>dikarenakan kehadiran dari aktivitas <em>body (otak). </em>Namun dalam NDE ini kehadiran <em>mind </em>dalam bentuk kesadaran akan sebuah pengalaman sama sekali tidak dikarena kehadiran fisik dari otak. Otak  Karena dalam kematian , batang sudah tidak berfungsi.</p>
<p>Jika kesadaran adalah hasil dari aktifitas otak, NDE seharusnya tidak mungkin terjadi. Setidaknya bukti dari NDE ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan , terutama ilmu empiris belum memahami sepenuhnya mengenai kesadaran pada <em>mind</em>. Dalam teori Brain–identity tersebut disebutkan bahwa kesadaran berakhir jika otak mengalami kematian, tapi jika ternyata kita bisa menunjukkan bahwa manusia dapat memperoleh informasi ketika mereka tidak sadar dan berada di luar tubuh mereka, ini adalah sebuah bukti yang tidak dapat dibantah mengenai keterpisahan kesadaran dan fisik otak. Kesadaran tidak lain adalah suatu kegiatan yang diciptakan oleh <em>mind </em>dan definisi kesadaran yang selama ini disebutkan adalah kesadaran yang diidentikkan dengan kegiatan yang diproyeksikan dengan prilaku fisik dalam berkegiatan, mulai dari sadar ketika berpikir (disebut sebagai aktifitas neuron, padahal ini sama sekali tidak menjelaskan apa isi pikiran) sampai dengan tindakan nyata seperti berlari misalnya. Definisi kesadaran di dalam dalam dunia medis merupakan definisi yang selalu menjadi pegangan, karena permasalahan dikotomi antara <em>mind </em>dan <em>body </em>sebenarnya merupakan permasalahan yang berpuncak pada masalah “kematian”, di mana pengertian kesadaran menurut dunia medis,</p>
<p>“<em>Consciousness in medicine (e.g., <a title="Anesthesiology" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anesthesiology">anesthesiology</a>) is assessed by observing a patient&#8217;s alertness and responsiveness, and can be seen as a continuum of states ranging from alert, oriented to time and place, and communicative, through disorientation, then delirium, then loss of any meaningful communication, and ending with loss of movement in response to painful stimulation.”<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p>Pemahaman mengenai kesadaran yang hadir dalam dunia medis yang ternyata menjadi acuan bagi masyarakat mengenai apa itu kesadaran ternyata telah salah dalam mendefinisikan apa itu kesadaran sehingga akan berpengaruh kedalam pemahaman antara <em>mind </em>dan <em>body. </em>Pengertian kesadaran yang seperti ini telah tidak sengaja telah menyatukan antara <em>mind </em>dan <em>body </em>, dalam pembahasan dalam agama religius, yang sering dibahas mungkin adalah keterpisahan antara tubuh dan jiwa bukan mengenai <em>mind </em>dan <em>body. </em>Pemahaman yang menganggap bahwa <em>mind </em>dan <em>body </em>adalah satu kesatuan merupakan pandangan yang telah mereduksi kemampuan <em>mind </em>itu sendiri, <em>mind </em>menjadi dianggap sebagai sesuatu yang bergantung terhadap sesuatu yang fisik, akibatnya banyak yang mengukur bahwa apa yang bisa dilakukan oleh <em>mind </em>tergantung dari seberapa besar dan seberapa aktif komponen dalam otak bekerja. Adanya interaksi antara <em>mind </em>dan <em>body </em>dalam menciptakan persepsi tidaklah dapat dipungkiri, namun bagaimana bentuk interkasi tersebut terjalin dan terbentuk masih menyimpan sebuah hal yang tidak dapat katakan sebagai sebuah relasi fisik.</p>
<p>Dengan melihat problem NDE dengan kondisi yang kedua (kondisi di mana seseorang benar – benar telah divonis mengalami kematian secara klinis) di sini benar – benar sebuah bentuk penjelasan yang menjawab apakah <em>mind </em>dan <em>body </em>itu satu atau terpisah, namun jawaban tersebut membentuk pertanyaan lain, bagaimanakah kesadaran dari <em>mind </em>dapat eksis tanpa adanya <em>body, </em>apakah untuk berpikir tidak perlu menggunakan otak secara fisik ? Dari problem NDE ini terlihat bahwa <em>body </em>tidak memiliki kekuatan atau kemampuan apa – apa tanpa adanya <em>mind </em>, <em>mind </em>menjadi sebuah entitas yang memiliki potensi mengendalikan <em>body </em>itu sendiri. Kesadaran yang muncul dalam ketidaksadaran tubuh (termasuk otak) pada kasus NDE berupa proyeksi, di mana sang manusia merasakan pengalaman  yang masih dapat dirasakan dan diingatnya ketika dia “hidup” kembali (hidup di sini diartikan sebagai ketika <em>mind </em>telah mengendalikan <em>body </em>lagi), pengalaman tersebut menurut penelitian yang dilakukan, Kenneth Ring membagi NDE dalam lima taraf :</p>
<ol start="1">
<li>Perasaan damai dan penuh kepuasaan hati</li>
<li>Perasaan lepas dari tubuh</li>
<li>Memasuki dunia transisi yang gelap (pengalaman lorong gelap)</li>
<li>Munculnya cahaya yang terang</li>
<li>Masuk ke dalam terang</li>
</ol>
<p>Inilah tahapan umum yang dialami oleh orang yang mengalami NDE, dan pengalaman yang bersifat partikular dapat berupa bertemu dengan orang dekat yang telah meninggal, dll. Dalam taraf pengalaman ini yang perlu kita perhatikan adalah bagaimanakah perasaan lepas dari tubuh tersebut dapat muncul, itu berarti ada sebuah indera lain (bukan indera yang melekat di tubuh) yang menginderai ketika merasakan kelepasan dari tubuh, analoginya ketika baju kita dilepas, kita akan merasa bahwa sentuhan-sentuhan dari kain baju tersebut menyentuh dan menjauh dari tubuh kita, dengan kata lain kita merasakan keterlepasan tersebut (baju dan tubuh) dengan menggunakan “indera” ketubuhan. Dalam taraf NDE ini, perasaan keterlepasan dari tubuh tersebut muncul dan dapat dirasakan harus dikarenakan adanya “indera” lain yang berada dalam <em>mind </em>karena indera yang ada pada tubuh telah divonis tidak berfungsi lagi. Di mana indera tersebut dapat dikatakan memiliki pengertian sebuah perantara yang menghubungkan yang menjembatani antara pengalaman yang dirasakan atau terjadi dan persepsi yang diterima/terbentuk. Pengertian indera yang terkandung pada <em>mind </em>tentunya akan memiliki fungsi yang sama karena dalam NDE tersebut manusia yang mengalami sebuah pengalaman, tetapi  indera tersebut tidak memiliki sistem yang sama dengan indera yang fisik.</p>
<p>Begitu pula dalam pengalaman dalam NDE yang selanjutnya, bagaimana sebuah ketidaksadaran indera  bisa mengkonsepsikan atau menerima pengalaman berupa terang dan gelap,  jika kita menggunakan mata fisik maka dengan mudah kita dapat membedakan mana yang gelap dan terang atau cara termudahnya adalah buka dan menutup mata, namun ketika kita tidak berksadaran secara fisik, bagaimana indera fisik kita dapat membantu pembentukan konsep tersebut, tentu tidak, indera yang terkandung dalam <em>mind </em>lah yang membentuknya, walaupun tidak secara pasti diketahui bagaimana indera dalam tersebut sesungguhnya, tetapi yang sangat jelas dan pasti adalah <em>mind </em>tersebut memiliki kemampuan untuk menginderai.</p>
<p>Dalam kasus – kasus NDE yang terjadi, menurut pengakuan orang yang mengalami, mereka mengalami sebuah pengalaman yang pada umumnya adalah pengalaman bertemu dengan orang dekatnya yang telah meninggal, para ahli neuron menyebutkan bahwa pengalaman seperti itu disebabkan karena adanya pembangkitan kenangan atau memori yang dipicu oleh dorongan alam bawah sadar. Di sini sangat perlu dicatat, penjelasan seperti ini mungkin tampak dapat menjelaskan, tetapi ternyata penjelasan seperti ini justru menimbulkan pertanyaan lain yang lebih serius dan akan lebih sulit untuk dijawab dan menimbulkan sebuah penjelasan yang menguatkan keberadaan <em>mind </em>sebagai sesuatu yang terpisah dari <em>body</em>.</p>
<p>Dalam penjelasan secara ilmu empiris, semua apa yang telah dilakukan  oleh manusia semasa hidup terekam di dalam otak dalam bentuk  memori atau kenangan tersebut didapat dalam segala aktifitas manusia, mulai dari Sinestesia (Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pencecapan, Perabaan, Kinestesia (kesadaran posisi dan gerakan dalam ruang)) , Movement (gerakan), Asosiasi, Imagination, Simbolisasi, dsb. Semua memori tersebut disimpan dalam otak.  Dalam persfektif ilmu informatika, memori berfungsi untuk menyimpan data dan program. Memori utama/primer adalah unit memori dengan kemampuan pengoperasian yang cepat dengan kecepatan elektronik dan biasanya <em>volatile</em> yaitu tidak dapat mempertahankan data dan program yang disimpan begitu sumber daya energi (listrik) dihentikan. Memori sekunder adalah memori yang menyimpan data dalam kapasitas besar khususnya bila data tersebut tidak perlu sangat sering digunakan. Memori melewati tiga proses: perekaman, penyimpanan dan pemanggilan. Perekaman (recording) adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit saraf internal. Penyimpanan (storage), proses yang kedua adalah menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa, dan dimana. Penyimpanan bisa aktif maupun pasif. Kita menyimpan secara aktif, bila kita menambahkan informasi tambahan. Kita mengisi informasi yang tidak lengkap dengan kesimpulan kita sendiri (inilah yang menyebabkan adaanya informasi tambahan). Mungkin secara pasif terjadi tanpa penambahan. Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan .<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Di sini memori dalam otak mekanisme dijelaskan dengan penjelasan bersifat begitu fisik.</p>
<p>Penjelasan yang disebutkan di atas adalah sebuah penjelasan yang dianggap sebagai penjelasan yang terkesan fisik, di mana kerja memori tersebut dijelaskan dengan adanya peristiwa reaksi atas saraf yang disimpan dalam bentuk listrik. Jika penjelasan ini dipakai untuk menjelaskan bagaimana NDE bisa terjadi tentu ini sebuah kesalahan besar. Pasalnya pada penjelasan mengenai memori itu sendiri, tidak dapat menjelaskan bagaimana sebuah kesadaran yang terbentuk yang mengendalikan dan mensortir semua memori itu, jika memang tidak ada sebuah kesadaran yang menyortir memori tersebut dan hanya saraf dalam otak yang bekerja, lantas apakah kesadaran itu tidak lain adalah kegiatan otak itu sendiri. Tentu tidak, di sini ada sebuah kesadaran yang juga hadir selama peristiwa mekanis penyusunan memori tersebut , yaitu sebuah kesadaran yang berdiri terpisah dari kinerja fisik otak itu sendiri.</p>
<p>Kembali pada permasalahan pengalaman yang dialami orang – orang yang pernah mengalami NDE, pengalaman tersebut berusaha dijelaskan dengan pernyataan bahwa “rasa memiliki pengalaman “ seperti itu sebenarnya adalah kerja dari memori itu sendiri, di mana memori dikendalikan oleh alam bawah sadar yang bekerja. Sebuah pertanyaan besar muncul di sini, apa itu alam bawah sadar, apakah alam bawah sadar tersebut terlepas dari kegiatan otak? Karena sangat tidak mungkin otak membantu apa – apa dalam pembentukan pengalaman mental dan <em>recall </em>memori, padahal orang tersebut telah divonis mati klinis karena memang tidak ada kinerja lagi pada otaknya. Jika benar alam bawah sadar tersebut yang mengaktifkan memori, itu berarti, memori itu sendiri sebenarnya tidak tersimpan di alam otak. Jika memori tersebut disimpan dalam otak, maka apakah mungkin memori tersebut bisa di­-<em>recall </em>dalam kondisi otak yang tidak bekerja. Itu berarti memori dan alam bawah sadar itu sendiri adalah bagian dari <em>mind </em>yang terpisah dari <em>body</em>.</p>
<p>Hal lain yang perlu penjelasan yang lebih adalah permasalahan kesadaran yang dimiliki, ketika tubuh seseorang tersebut telah tidak sadar/ tidak berfungsi atau mati secara klinis, bagaimana dia masih memiliki sebuah kesadaran akan sebuah pengalaman, dan pengalaman tersebut pengalaman mental. Kesadaran di sini adalah sebuah kesadaran <em>mind </em>bukan kesadaran yang bersifat pengalaman inderawi. Di sinilah ada sebuah dikotomi lagi mengenai kesadaran, yaitu kesadaran ternyata juga terbagi menjadi dua, kesadaran yang dirasakan oleh tubuh secara fisik (yang juga direspon oleh otak)  dan kesadaran yang memang berdiri sendiri. Dan tentu pengalaman ini harus dibedakan dengan mimpi, mimpi terjadi dalam kondisi otak masih bekerja dan hanya frekuensinya menurun dan pengalaman dalam mimpi tidak akan segera diingat secara menyeluruh, hanya diingat per-bagian (dan kebanyakan orang lupa dengan mimpinya) , sedangkan pengalaman kesadaran dalam NDE ini dapat diceritakan secara mendetail dan menyeluruh seolah – oleh pengalaman ini memiliki rasa pengalaman yang sama dengan pengalaman yang dirasakan jika tubuh mengalami sebuah pengalaman.</p>
<p>Fenomena NDE ini ternyata menjelaskan sebuah  kejelasan mengenai dikotomi antara <em>mind </em>dan <em>body </em>. Dua hal ini memang memiliki sebuah korelasi satu sama lain dan itu tidak dapat dipungkiri, namun korelasi yang terbentuk bukanlah sebuah korelasi yang selalu melibatkan keduanya, <em>body </em>tidak akan bisa memberikan sesuatu secara tanpa adanya <em>mind </em>. Sedangkan <em>mind </em>dalam peristiwa NDE dapat saja berdiri tanpa adanya koneksi dengan <em>body. </em>Namun, bukan berarti berarti bahwa fenomena NDE ini telah menjelaskan bagaimana <em>mind </em>tersebut bekerja dan membentuk suatu hubungan dengan <em>body</em>, fenomena NDE hanya sebuah bukti bahwa <em>mind </em>dan <em>body </em> merupakan hal yang tidak sama, <em>mind </em>tidak sama dengan  <em>body.</em> Permasalahan bagaimana koneksi yang terjadi antara <em>mind </em>dan <em>body </em>tentu bukan perkara yang sederhana, begitu banyak hal – hal yang melibatkan mengenai bagaimana korelasi <em>mind </em>dan <em>body </em>yang membingungkan, salah satunya adalah mengenai orang yang dianggap tidak waras. Ini memerlukan penjelasan yang tidak sederhana, terkait dengan <em>mind </em>dan <em>body. </em></p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> http://en.wikipedia.org/wiki/Consciousness</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> R.Funny Mustikasari Elita. <a href="http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/01/memahami_memory.pdf">http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/01/memahami_memory.pdf</a>. tulisan ini memberikan penjelasan mengenai memori atau kenangan yang disimpan dalam otak dan bagaimana memori itu terpanggil kembali.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=34&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/kesadaran-mind-dalam-%e2%80%9cketaksadaran%e2%80%9d-body-dalam-fenomena-nde-near-death-experience/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0893f2e84a05256d2d4806dfcb5bed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">donaniagaradinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEX SELECTION  DAN PROBLEMA ETIKA  YANG TERMUAT DI DALAMNYA</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/sex-selection-dan-problema-etika-yang-termuat-di-dalamnya/</link>
		<comments>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/sex-selection-dan-problema-etika-yang-termuat-di-dalamnya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 09:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>donaniagaradinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[A.     Pendahuluan Perkembangan teknologi rekayasa genetika telah “men-Tuhankan” manusia, perkembangan teknologi rekayasa genetika telah mengantarkan manusia pada tingkat mendesain dan menentukan faktisitas ketubuhan manusia. Faktisitas yang dimaksud di sini adalah sebuah bentuk determinasi atas kontrol genetik calon manusia atas bentuk &#8230; <a href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/sex-selection-dan-problema-etika-yang-termuat-di-dalamnya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=31&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li><strong>A.     </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p>Perkembangan teknologi rekayasa genetika telah “men-Tuhankan” manusia, perkembangan teknologi rekayasa genetika telah mengantarkan manusia pada tingkat mendesain dan menentukan faktisitas ketubuhan manusia. Faktisitas yang dimaksud di sini adalah sebuah bentuk determinasi atas kontrol genetik calon manusia atas bentuk ketubuhannya. Faktisitas ketubuhan yang sebelumnya merupakan hasil kombinasi acak-logis dari gen – gen yang saling bertemu, sekarang bisa didesain dengan sengaja untuk mendapatkan manusia dengan ketubuhan dan jenis kelamin yang dikendaki. Teknologi rekayasa genetika yang berkembang cukup pesat saat ini adalah rekayasa genetika yang berhubungan dengan teknologi reproduksi buatan. Teknologi reproduksi buatan adalah sebuah teknologi yang memungkinkan manusia untuk melakukan proses mendapatkan keturunan tanpa adanya <em>coitus </em>, tetapi dengan menyatukan sel – sel yang akhirnya bisa menghasilkan zigot. Dan salah satu bentuk pengaplikasian dari teknologi ini adalah <em>sex-selection.</em></p>
<p><em>Sex- selection </em> pada fungsi awalnya adalah sebuah teknologi yang berguna untuk membantu lahirnya bayi tanpa cacat bawaan yang  terpaut pada kromosom Y ,di mana  kromosom Y akan diganti dengan kromosom X sehingga menghasilkan bayi perempuan yang tidak memiliki potensi cacat bawaan. Rekayasa genetika (<em>sex-selection</em> termasuk di dalamnya) muncul dengan didasari keinginan untuk menciptakan kesejahteraan manusia sendiri, namun pada perkembangannya muncul problem etis ketika azas kepentingan mulai menginvasi teknologi rekayasa genetika. <em>Sex-selection </em>kemudian dapat dimanfaatkan untuk pemuas arogansi atas jenis kelamin tertentu, arogansi atas stigma adanya hierarki dalam jenis kelamin manusia. <em>Sex-selection </em>dijadikan alat ekspansi superioritas jenis kelamin. Implikasinya adalah, muncul berbagai macam problematika etis, ketika manusia memiliki kemampuan untuk merekayasa dan menentukan faktisitas calon manusia yang akan menjadi anaknya. Di sini akan muncul pertanyaan apakah etis seseorang (orang-tua) menentukan faktisitas ketubuhan orang lain (anaknya) dengan sengaja?, faktor budaya primordial yang patriarki menjadi permasalahan serius dalam <em>sex-selection</em>, <strong>pandangan adanya hierarki atas jenis kelamin harus segera dinetralisir dengan rasionalitas</strong>, esensi dari eksistensi manusia juga menjadi hal yang perlu dikaji berkenaan dengan adanya esensi yang bersifat artifisial akibat dari eksistensi yang telah ditentukan dengan sengaja faktisitasnya.</p>
<p>Untuk itulah penulis mengangkat kasus <em>sex-selection </em>sebagai sarana refleksi kritis atas problema etis yang kompleks berada dalam kehidupan sosial-budaya manusia. Benturan etis , benturan moral, yang muncul dalam bentuk dilema, biasanya muncul akibat dari adanya benturan nilai, norma, yang di mana tidak dapat dipisahkan dari  keyakinan individu yang menganutnya masing-masing, dan akibat dari benturan etis tersebut akan memunculkan konflik nilai sehingga perlu mendapatkan sebuah kontemplasi khusus yang akan diteropong melalui lensa etika terapan.</p>
<ol>
<li><strong>B.      </strong><strong>Kasus</strong></li>
</ol>
<p>Kasus yang akan diangkat mengenai <em>sex-selection </em>ini adalah kasus yang merupakan kasus yang bersifat ilustratif. Walaupun bersifat ilustratif, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kasus ini dapat benar-benar terjadi, karena perkembangan pola pikir dan teknologi yang turut mengimbangi kebutuhan manusia. Berikut kasus ilustratif mengenai <em>sex-selection </em>:</p>
<p>“<em>Pada tahun 2012, di Jakarta, Indonesia, terdapat sepasang suami istri, Hendrawan dan Sulistiawati, yang setelah menjalani pemeriksaan laboratorium bahwa sang istri hanya bisa melahirkan satu kali saja seumur hidup dikarenakan kondisi rahim yang tidak memungkinkan untuk hamil lebih dari satu kali. Hendrawan adalah seorang keturunan Jawa ningrat yang sangat mengagungkan superioritas laki-laki, sehingga ia sangat menginginkan agar anaknya kelak adalah harus laki – laki. Di satu sisi, sang istri merupakan perempuan berdarah minang yang sangat menginginkan anak perempuan. Pada saat itu teknologi rekayasa genetika telah mencapai tahap kemampuan dalam menciptakan reproduksi buatan, salah satunya adalah sex-selection, yaitu sebuah upaya dan prosedur pemilihan jenis kelamin dalam rangkaian teknologi reproduksi buatan. Pertentangan antara pasangan suami istri ini tidak bisa dielakkan. Sang dokter yang berwenangpun tidak bisa mengambil keputusan karena keduanya belum dapat mencapai kesepakatan</em>.&#8221;</p>
<p><strong>C.      </strong><strong>Konflik nilai</strong></p>
<p>Konflik nilai yang muncul dalam kasus ini adalah :</p>
<p>1.    Pembatasan hak orang tua terhadap anaknya, sejauh mana orang tua mempunyai hak atas eksistensi dan esensi anaknya, apakah hak penuh atau bukan, atau bahkan tidak punya hak.</p>
<p>2.    Pertentangan antara pandangan budaya patriarki atas adanya hierarki dalam peran jenis kelamin laki-laki/perempuan dan nilai HAM calon bayi itu sendiri.</p>
<p>3.    Kode etik dokter yang akan melakukan usaha-usaha untuk mengambil jalan terbaik menurut pertimbangannya akan “menyelamatkan” pasien pantaskah diterapkan dalam <em>sex-selection </em> mengingat pilihan dokter untuk melakukan ­<em>sex-selection </em>akan berhubungan dengan “keselamatan” (tidak hanya fisik saja) dari calon bayi selama seumur hidup bayi tersebut.</p>
<p><strong>D.     </strong><strong>Perumusan Masalah </strong></p>
<p>Dari kasus <em>sex-selection </em>maka perumusan masalah yang diangkat adalah :</p>
<p>1.     Apakah etis jika seseorang calon manusia (calon bayi) tersebut, sebelum hadir di dunia, telah ditentukan faktisitasnya oleh kedua orang tuanya?, mengingat tanpa <em>sex-selection </em>pun<em> </em>calon bayi itu sendiri memang tidak bisa menentukan jenis kelaminnya sendiri, dia akan terjerat faktisitas juga pada akhirnya, namun apakah orang tua memiliki hak untuk mencampuri faktisitas calon anaknya dengan faktor kesengajaan, di antara suami dan istri, apakah memang ada yang lebih pantas untuk menentukan jenis kelamin anaknya? Jika ada, kenapa?.</p>
<p>2.     Apakah memang bahwa peran sebagai laki-laki atau perempuan adalah sebuah hiearki dalam kehidupan, sehingga harus dipilih yang terbaik untuk calon anaknya?</p>
<p>3.     Dan bagaimana posisi seorang dokter di sini, apakah dokter pantas memenuhi permintaan <em>sex-selection</em>, mengingat <em>sex-selection </em>ini akan berdampak seumur hidup bagi si bayi?.</p>
<p>4.    Apakah manusia yang baru berwujud calon bayi (masih dalam rencana) memiliki hak dalam penilaian ketentuan HAM ?</p>
<p>5.    Apakah manusia benar-benar murni dapat menciptakan esensi dan eksistensinya sendiri, mengingat dia tidak akan terlepas dari faktor luar yang membentuknya termasuk orang tuanya ? dan seperti apakah eksistensi dan esensi yang terbentuk secara etis dan manusiawi bagi seorang manusia?</p>
<p><strong>E.      </strong><strong>Tujuan</strong></p>
<p>Tujuan dari pengangkatan kasus ini adalah :</p>
<p>1.    Memperlihatkan bahwa campur tangan manusia dalam menentukan faktisitas ketubuhan seseorang mengakibatkan terciptanya potensi eksistensi dan esensi buatan dalam diri seseorang.</p>
<p>2.     Menjelaskan bahwa tidak ada hierarki antara laki-laki dan perempuan.</p>
<p>3.    Merefleksikan ulang kode etik kedokteran.</p>
<p>4.    Ingin mengangkat hak azasi dari manusia (HAM) dari manusia yang berada dalam tahap masih sebagai calon bayi.</p>
<p><strong>F.       </strong><strong>Metoda</strong></p>
<p>Metoda yang digunakan dalam menyajikan makalah kasus ini adalah dengan bentuk <em>Philosophical Discourse</em>, yaitu naratif secara filosofis yang memuat kebenaran etis yang bersifat dugaan estimasi yang logis. Teori filsuf yang diangkat adalah eksistensialisme dari Sartre, feminisme dari Luce Irigaray, Etika Utilitarianisme Jeremy Bentham. Metoda didukung dengan kajian kepustakaan, berupa penelusuran dari bahan monogram dan literature elektronik.</p>
<p><strong>G.     </strong><strong>Thesis Statement</strong></p>
<p><em>Thesis Statement </em>untuk kasus ini adalah <em>sex-selection </em>tidak dapat dilakukan secara bebas, <em>sex-selection </em>dapat dilakukan dalam kondisi tertentu tetapi dengan aturan-aturan dan ketentuan tertentu yang ketat. Contoh : adanya penyakit keturunan terpaut kromosom.</p>
<p><strong>H.     </strong><strong>Argumentasi</strong></p>
<p>Benturan etis, benturan moral, yang muncul dalam bentuk dilemma disebabkan ketika nilai – nilai berbenturan. Dalam kasus ini muncul benturan etis, yaitu apakah orang tua adalah pemilik mutlak terhadap anaknya secara keseluruhan sehingga bisa mengatur bahkan menentukan jenis kelamin anaknya melalui <em>sex-selection</em>. Di sisi lain apakah orang tua hanyalah  dipandang sebagai pengasuh, pengasuh yang harus bertanggungjawab karena anak tersebut lahir di dalam pernikahan mereka. Orang tua juga memiliki porsinya dalam menentukan anaknya, tetapi tidak dalam seluruh porsi, ada batasan-batasan tertentu, tetapi tidak melupakan bahwa kelak anaknya harus siap dengan dirinya yang telah dirancang orang tuanya, sehingga ada masa si anak harus diberi ruang untuk menciptakan esensinya.</p>
<p>Penggunaan <em>sex-selection </em>dengan tujuan bukan untuk menghindari penyakit bawaan, dapat disebut sebagai kejahatan kemanusiaan jika tidak dibarengi dengan perlakuan yang sesuai. Dalam kasus yang dipaparkan di atas, permasalahan yang muncul berawal dari adanya faktor budaya. Baik sang suami maupun sang istri dilatar- belakangi dan dibentuk oleh faktor budaya masing-masing, di mana dalam nilai budaya sang suami, laki-laki memiliki superioritas dan dianggap lebih baik, sehingga laki-laki menjadi perhatian dan prioritas utama (patriarki), sedangkan dari sisi istri, perempuan bukanlah peran yang merupakan sub-level di bawah laki-laki.</p>
<p><strong>Dalam kasus ini titik tolak utama permasalahan berada dalam pandangan sosial-budaya yang masih dipengaruhi oleh nuansa patriarkal</strong>, jenis kelamin masih dianggap mempengaruhi <em>power and status</em>. Hal tersebut  merupakan permasalahan klasik yang terjadi dari ratusan tahun yang lalu. Permasalahan mengenai <em>gender </em>telah menimbulkan berbagai diskriminasi dan pandangan yang mengkerdilkan perempuan. Ketika seorang anak telah ditentukan dengan sengaja jenis kelaminnya oleh orang tuanya, maka dalam kelanjutan dalam tahap berikutnya anak tersebut akan dipenuhi tuntutan-tuntutan peran sosial yang telah dibentuk oleh masyarakat, struktur dirinya tidak lain adalah struktur tuntutan buatan dari masyarakat Dengan telah ditentukan jenis kelamin calon bayi tersebut dari sebelum lahir, maka bayi tersebut dapat dibilang telah kehilangan dirinya sejak awal, keberadaan bayi tersebut sama dengan omong kosong, karena bayi tersebut tidak lain adalah sebuah realisasi dari proyeksi keinginan orang tua. <strong>Eksistensi mendahului esensi</strong> yang diutarakan oleh Sartre, telah tidak berlaku lagi dalam hal ini, karena eksistensi yang akan muncul dari calon bayi tersebut bukanlah sebuah eksistensi dari manusia, eksistensinya hanya ada secara fisik, manusia yang lahir tersebut adalah eksistensi yang dirancang oleh orang lain, manusia hasil pemprograman semata, dia tidak dapat memprogram dirinya sendiri. Kebebasan yang dia punya, dari sebelum lahir telah direnggut oleh orang tuanya sendiri. Ketika eksistensi sudah merupakan hasil pemrograman, maka esensi yang terbentuk adalah hasil pemrograman tingkat lanjutan. Calon manusia ini telah dipilihkan ketubuhannya oleh manusia lain, benarlah pernyataan Sartre, manusia adalah neraka bagi manusia lain.</p>
<p><strong>Isu gender adalah faktor yang paling kuat mempengaruhi dalam <em>sex-selection </em> (yang bukan karena alasan kesehatan). </strong>Untuk itulah perlu adanya rekontruksi ulang arti dan peran dalam <em>gender. </em>Inilah yang diangkat oleh Luce Irigaray, seorang feminis. Luce Irigaray mengritik rasio pencerahan. Menurutnya rasionalitas pencerahan tidak berlaku bagi perempuan karena ia meremehkan elemen-elemen non-rasional dalam pikiran manusia, demikian juga kehendaknya untuk berkuasa, mengontrol, memanipulasi dan menghancurkan atas nama yang rasional itu. Cara berpikir Pencerahan bersifat khas laki-laki. Kritik terhadap rasionalitas yang bersifat laki-laki ini, bagi Irigaray, sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengunggulkan irasionalitas perempuan. Melainkan semata hendak menunjukkan bahwa rasionalitas itu memiliki struktur tertentu, yakni prinsip identitas, prinsip nonkontradiksi (A adalah A, A bukan B) yang menyingkirkan ambiguitas dan ambivalensi, dan binerisme (oposisi alam/rasio, subjek/objek).</p>
<p>Irigaray menekankan pentingnya perbedaan seksual sebagai landasan etis dalam membangun relasi antara laki-laki dan perempuan. Tujuan Irigaray ini tidak lain adalah usaha membangun <em>countersystem </em>yang bersifat khas feminin untuk membuka ruang bangkitnya identitas seksual yang positif bagi perempuan sekaligus membangun relasi subjektif “To Be Two” antara lelaki dan perempuan.</p>
<p>Berbeda dengan gerakan feminis pertama, Irigaray mengajukan konsep perbedaan seksual sebagai basis pembebasan perempuan disebabkan kenyataan realitas konkrit keterpinggiran kaum perempuan, bukan hanya akibat dominasi bahasa patriarkis melainkan juga oleh berbagai slogan yang mengatasnamakan kesetaraan lelaki-perempuan dan slogan kenetralan dalam klausul berbagai konvensi dan perundang-undangan. <strong>Karena itulah perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan berarti harus ada penyataraan, tetapi adanya pemahaman dan penghargaan atas kehadiran masing-masing, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga jika dalam <em>sex-selection </em>terjadi mengunggulkan jenis kelamin laki-laki, itu berarti merupakan sebuah kejahatan moral, karena telah membunuh kemungkinan lahirnya perempuan. Secara tidak langsung itu adalah pembunuhan perempuan.</strong></p>
<p>Di sisi lain, adanya <em>sex-selection </em>(yang bukan dilatarbelakangi alasan kesehatan) patut dipertanyakan dari sisi Hak Azazi Manusia. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah apakah hak azazi manusia berlaku pada manusia yang bahkan belum ada, manusia yang masih berupa rencana menjadi manusia. Dalam Deklarasi HAM PBB 1948, tidak disebutkan secara eksplisit mengenai adanya perlindungan terhadap hak azazi calon manusia. Dalam Deklarasi HAM PBB 1948, yang tercantum adalah <strong>Pasal 3 </strong>yaitu setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai individu, namun di sini tidak ada definisi individu secara jelas, individu yang termaksud lebih menuju kepada individu yang bersifat telah lahir. Di sinilah permasalahannya, Deklarasi HAM PBB, harus memberikan definisi yang lebih spesifik lagi mengenai yang dimaksud sebagai individu, calon individu pun seharusnya juga mendapat perlindungan HAM atas kebebasannya untuk menentukan dirinya secara alamiah, <strong>karena <em>sex-selection </em>pun sebenarnya juga merupakan pembunuhan, pembunuhan atas kesempatan hidup individu dengan jenis kelamin tertentu. Logikanya, ketika dalam proses persatuan sperma dan ovum, secara normal (walau acak) akan ada kesempatan lahir antara laki-laki dan perempuan, jika sudah ditentukan yang akan dipertemukan adalah sperma yang membawa kromosom Y dan bertemu dengan kromosom X pada ovum, maka zigot yang akan berkembang akan menjadi laki-laki, itu berarti <em>sex-selection </em>telah melakukan pembunuhan “kesempatan” atas calon bayi perempuan, perampasan hak hidup calon manusia perempuan. Karena jika dibiarkan secara alami, maka kesempatan bayi perempuan yang hidup akan tetap ada, dengan <em>sex –selection </em>kesempatan itu dibunuh.</strong></p>
<p>Etika utilitarianisme John Stuart Mill mengambil peran di sini, yaitu pada poin kebahagiaan pelaku tidaklah diunggulkan dan menjadi prioritas utama, tapi dampak kebahagiaan bagi orang yang terkena dampak prilaku dan sebisa mungkin dampaknya untuk orang lain dalam jumlah lebih besar, mungkin jika dilihat sebagai kasus tunggal dampaknya hanya akan diderita oleh satu anak, tapi jika seandainya kasus ini terjadi dibanyak tempat dan di banyak waktu, berapa ratus ribu jiwa manusia yang akan menderita karena menjadi manusia yang terjadi hasil rekayasa, eksistensi dan esendi yang telah dirancang bukan oleh dirinya sendiri, di sinilah kebahagiaan orang tua yang akan melakukan <em>sex-selection </em>bukanlah pertimbangan utama dari keputusan untuk melakukan <em>sex-selection, </em>tetapi pada pertimbangan apakah calon anak tersebut akan bisa bahagia nantinya jika  faktisitas dari tubuhnya merupakan rekayasa dari orang tuanya, ketika dari sebelum lahir dia telah ditentukan oleh orangtuanya, maka sepanjang hidupnya, orang tuanya tidak akan pernah lepas untuk mengatur semua hidupnya, karena orangtuanya menganggap mereka lah yang memberi hidup pada anaknya, sehingga anaknya adalah milik mereka seutuhnya, anaknya tidak memiliki hak atas dirinya, apakah ini bisa disebut kebahagiaan untuk si anak, anak yang bahkan eksistensinya telah direkayasa, dan esensinya telah dirancang pula oleh orang tuanya. Di sinilah mengorbankan kebahagian sendiri bagi kebahagiaan orang lain dari John Stuart Mill harus diaplikasikan, orang tua harus bisa mengorbankan kepentingan mereka untuk mengunggulkan suatu jenis kelamin tertentu bagi anaknya, demi kebahagiaan anaknya sendiri, demi kebahagiaan eksistensi anaknya. Dari sebelum lahir, sebenarnya, calon anaknya telah memiliki pilihan bahagianya sendiri (secara acak), yaitu, apakah yang ingin bertemu kromosom X dan X , atau X dan Y. Walaupun hal ini merupakan hal yang bersifat acak, namun di sinilah terlihat apakah orang tua akan bisa memberikan kebebebasan kepada anaknya atau tidak.</p>
<p>Dalam pelaksanaan <em>sex-selection </em>pasti tidak akan terlepas dari campur tangan dokter, Dalam kode etik kedokteran, tercantum bahwa dokter dipersilahkan melakukan dan bahkan harus melakukan tindakan yang terbaik menurut pertimbangannya akan berdampak menyelamatkan kondisi pasiennya. Dalam kode etik ini, tampaknya yang ditekankan adalah bagaimana penyelamatan pasien seketika itu juga, untuk menyelamatkan kehidupan pasien, tanpa ada pertimbangan hidup dengan kualitas yang seperti apa. Dalam kasus ini, calon bayi lah yang menjadi pasiennya, karena calon bayi ini yang mendapat penanganan dari dokter. Pada dasarnya, dokter sendiri tidak bisa menjamin “keselamatan” (baca :kehidupan berkualitas) sang anak nantinya, karena penanganan calon bayi tersebut merupakan tanggung jawab yang agak berbeda dengan pengobatan penyakit, dokter di sini terlibat dalam rekayasa bentuk kehidupan, apakah dokter tersebut dapat menjamin kualitas kehidupan bayi itu nantinya, itu patut dipertanyakan. Jadi harus dihindari praktik <em>sex-selection sex-selection </em>yang ternyata tidak mempertimbangkan kualitas hidup sang bayi nantinya, karena melalui <em>sex-selection </em>kebebasan eksistensinya telah direnggut terlebih dahulu. Jika <em>sex-selection </em>diperbolehkan secara bebas, <em>sex-selection </em>hanya akan menjadi industrialisasi di dunia kedokteran, karena akan menjadi semakin marak, dan <em>chaos </em>yang lebih banyak akan muncul. Apalagi dalam dunia medis, tanpa bukti-bukti yang kuat tindakan medis tidak dapat dilakukan kecuali alasan yang penting dan mengancam jiwa, seperti itulah <em>sex-selection</em>, <em>sex-selection </em>yang bukan dikarenakan penyakit turunan (bersifat hereditas) tidak bisa dilakukan secara bebas. Dalam dunia kedokteran harus diingat bahwa suatu tindakan belum tentu selalu baik,  perlu senantiasa dikritisi dan dicari alternatif yang lebih baik, melalui proses yang adil, tiada keberpihakkan pada kepentingan siapapun, semua murni demi pasien (dalam kasus ini adalah calon bayi).</p>
<p><strong>I.        </strong><strong>Alternatif Solusi</strong></p>
<p>Maka dari tinjauan kasus dan argumen-argumen yang dikemukakan, maka penulis mengajukan alternatif solusi sebagai berikut :</p>
<p>1.    <em>Sex-selection </em>secara rekayasa genetika hanya dapat dilakukan untuk kepentingan menghindari penyakit turunan dan dilakukan dengan aturan khusus dan ketentuan khusus yang resmi dari dunia kedokteran.</p>
<p>2.    Adanya program pembekalan secara intensif, baik oleh media maupun tokoh-tokoh terpelajar, termasuk kelompok medis, kepada masyarakat mengenai rekonstruksi pemikiran tentang <em>Gender</em> dan tidak ada hiearki status dan power dalam lingkungan sosial antara perempuan dan laki-laki. Dengan adanya pemahaman seperti ini, maka nilai-nilai kemanusiaan tidak akan dikontrol oleh keegoisan nilai dan norma budaya patriarki.</p>
<p>3.    Adanya penyusunan definisi ulang mengenai HAM dalam Deklarasi HAM PBB mengenai definisi individu, harus ada perlindungan terhadap calon individu yang akan lahir, mengingat kondisi teknologi yang telah sangat maju, yang mampu merampas hak manusia yang berlum lahir ke dunia, dan hak calon manusia tersebut juga harus dilindungi.</p>
<p>4.    Adanya penjelasan dan penyusunan kembali kode etik kedokteran mengenai praktek-praktek khusus rekayasa genetika seperti <em>sex-selection</em> karena kode etik harus ikut disesuaikan dengan perkembangan teknologi dalam dunia kedoteran itu sendiri untuk menghindari adanya pemanfaatan untuk kepentingan tertentu yang dapat memicu <em>chaos </em>baik secara langsung atau akumulatif di saat – saat tertentu.</p>
<p><strong>J.        </strong><strong>Refleksi Kritis</strong></p>
<p>Refleksi kritis dari kasus <em>sex-selection </em> ini adalah perefleksian kembali mengenai batas-batas hak dan kewajiban orang tua dalam campur tangan dengan kehidupan anaknya, berkaitan dengan eksistensi dan esensi dari faktisitas seorang manusia dan pandangan atas hierarki jenis kelamin, serta pandangan baru mengenai hak azazi manusia yang masih berstatus calon manusia.</p>
<p>Orang tua tentu saja memiliki hak atas anaknya, orang tua memiliki keinginan untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya, namun terkadang keinginan yang terbaik dari orang tua pun harus ada alasan logis rasional untuk menyatakan bahwa itu adalah benar-benar sebuah keinginan yang baik. Keinginan yang dilatarbelakangi faktor budaya yang merupakan pandangan nilai tradisi yang sebenarnya realtif sebenarnya masih perlu dikaji, termasuk pandangan tradisi patriarki. Tradisi patriarki tidak dipungkiri memang memiliki nilai positif dalam beberapa hal, namun patriarki yang kemudian mengarah memarginalkan perempuan akan berdampak buruk bagi tatanan kehidupan sosial-masyarakat pada akhirnya. Perempuan akan terbatas hak-hak nya sebagai manusia, dan ini tidak manusiawi. Inilah yang perlu dikritisi dari alasan <em>sex-selection </em>yang berdasarkan pada nilai norma budaya.</p>
<p>Eksistensi dan esensi dari seorang manusia akan menjadi manusiawi jika terbentuk dan berkembang secara alamiah. Kehidupan agar teratur harus dibiarkan mencari jalannya sendiri, banyak bencana yang terjadi pada manusia dikarenakan manusia terlalu banyak campur tangan dengan alam. Begitu juga dengan kehidupan manusia, ketika manusia telah bisa ikut campur dalam menentukan kehidupan manusia lain (bayi) dalam bentuk faktisitas (keterbatasan ketubuhan) , menentukan jenis kelamin, maka itu artinya manusia telah melanggar keseimbangan alam, manusia menutup kesempatan alamiah potensi kehidupan manusia. Setiap potensi kehidupan memiliki hak nya masing-masing, begitu pula calon bayi, kesempatan untuk menjadi bayi perempuan atau laki-laki, keduanya harus diberikan kesempatan yang sama. Karena tidak ada alasan yang masuk akal untuk menutup kesempatan alamiah calon bayi dengan jenis kelamin tertentu untuk hidup. Jika itu terjadi maka itu sama dengan pembunuhan, pembunuhan calon-calon kehidupan, <strong>dengan <em>sex –selection </em>kesempatan itu dibunuh. </strong>Sangat etis jika membiarkan kehidupan alamiah menemukan jalannya sendiri, karena manusia sendiri adalah bagian dari alam.</p>
<p><strong>Eksistensi mendahului esensi</strong> yang diutarakan oleh Sartre, telah tidak berlaku lagi dalam hal <em>sex-selection</em> ini, karena eksistensi yang akan muncul dari calon bayi tersebut bukanlah sebuah eksistensi dari manusia, eksistensinya hanya ada secara fisik, manusia yang lahir tersebut adalah eksistensi yang dirancang oleh orang lain, manusia hasil pemprograman semata, dia tidak dapat memprogram dirinya sendiri. Kebebasan yang dia punya, dari sebelum lahir telah direnggut oleh orang tuanya sendiri. Calon manusia ini telah dipilihkan ketubuhannya oleh manusia lain, bukan eksistensi secara alami. Eksistensi yang ada adalah eksistensi semu semata. Dengan menjadi eksistensi yang telah dirancang atau diprogram, maka kesempatannya untuk mengisi esendi dirinya sendiri secara otentik telah semakin berkurang, dirinya telah dibentuk orang lain dari awal, maka orang lain pula yang akan mengisi esensinya, dengan serangkaian aturan dan pilihan yang harus dijalani dan dipilih olehnya kelak.</p>
<p><strong>Hak Azazi Manusia</strong> juga harus segera dikonstruksi ulang definisinya mengenai apa yang disebut individu manusia yang harus dilindungi haknya, dengan kemajuan teknologi, ternyata hak azazi manusia telah dapat dirampas bahkan sebelum manusia itu lahir, pembunuhan kesempatan hidup manusia dengan jenis kelamin tertentu harus segera mendapat perlindungan. Deklarasi HAM dan kode etik profesi lainnya yang berhubungan dengan manusia harus terus merevisi diri karena kemajuan teknologi memberikan peluang besar atas pelanggaran atas Hak Azazi manusia dengan cara yang baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Bailey, Enger Ross., Eldon D. Enger., Frederick C.Ross.. 2009. <em>Concept in Biology (thirteen edition). </em>McGraw-Hill : New York.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia.   2002. <em>Etika Terapan Meneropong Masalah Kehidupan Manusia Dewasa Ini. </em>Yayasan Kota Kita : Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lips, Hilary. 2008. <em>Sex and Gender. </em>McGraw-Hill : New York.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suseno, Franz Magnis. 1998. <em>13 Tokoh Etika. </em>Penerbit Kanisius : Yogyakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;Deklarasi Universal –HAM PBB <a title="http://www.kontras.org" href="http://www.kontras.org/">http://www.kontras.org</a>. (diakses pada tanggal 6 Desember 2010, pukul 22.15)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><cite>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;Filsafat.kompasiana.com/2010/04/28/<strong>eksistensialisme</strong>-<strong>sartrean</strong>/ </cite>(diakses pada tanggal  4 Desember 2010, pukul 14.35)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<a href="http://www.knepk.litbang.depkes.go.id/knepk/download%20dokumen/artikel%20&amp;%20paper/human%20cloning.pdf">http://www.knepk.litbang.depkes.go.id/knepk/download%20dokumen/artikel%20&amp;%20paper/human%20cloning.pdf</a>.  (diakses pada tanggal 6 Desember 2010, pukul 22.05)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><cite> </cite></p>
<p><cite>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</cite><cite><a href="http://nurulhuda.wordpress.com/2006/11/24/irigaray-emansipasi-perempuan-perbedaan-seksual/">http://nurulhuda.wordpress.com/2006/11/24/irigaray-emansipasi-perempuan-perbedaan-seksual/</a></cite><cite>. </cite>(diakses pada tanggal  4 Desember 2010, pukul 14.20)</p>
<p><cite> </cite></p>
<p style="text-align:left;"><cite>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</cite><cite><a href="http://www.freewebs.com/etikakedokteranindonesia/">www.freewebs.com/<strong>etikakedokteran</strong>indonesia/</a></cite><cite>. </cite>(diakses pada tanggal 6 Desember 2010, pukul 22.20)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=31&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/10/14/sex-selection-dan-problema-etika-yang-termuat-di-dalamnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0893f2e84a05256d2d4806dfcb5bed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">donaniagaradinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menuju Negeri Pasir Di Perbatasan Nusantara :  Kampung Meos Bekwan, Raja Ampat , oleh  Dona Niagara Dinata,</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/17/15/</link>
		<comments>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/17/15/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 08:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>donaniagaradinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Dona Niagara Dinata, Raja Ampat adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua Barat, sebuah kabupaten yang baru saja dimekarkan sejak 12 April 2003. Wilayah ini terletak dibagian ujung barat dari Pulau Papua atau tepatnya pada koordinat 2º25&#8242; LU – 4º25&#8242; LS &#8230; <a href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/17/15/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=15&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://donaniagaradinatawall.files.wordpress.com/2011/08/281944_2068472004133_1614837039_1950777_7730187_n1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-24" title="281944_2068472004133_1614837039_1950777_7730187_n" src="http://donaniagaradinatawall.files.wordpress.com/2011/08/281944_2068472004133_1614837039_1950777_7730187_n1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p align="center">Dona Niagara Dinata,</p>
<p>Raja Ampat adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua Barat, sebuah kabupaten yang baru saja dimekarkan sejak 12 April 2003. Wilayah ini terletak dibagian ujung barat dari Pulau Papua atau tepatnya pada koordinat 2º25&#8242; LU – 4º25&#8242; LS dan 130º – 132º55&#8242; BT. Beberapa tahun terakhir ini Raja Ampat menjadi sorotan di mata dunia terutama dalam dunia pariwisata bahari. Kekayaan lautnya menjadi bagian dari tujuan pariwisata internasional. Hal lain yang menyebabkan Raja Ampat menjadi sorotan dunia adalah keberadaan terumbu karang yang jumlahnya sangat banyak dan bervariasi. Peran penting terumbu karang ( <em>coral reefs ) </em> yang ada di laut Raja Ampat mengundang perhatian dunia. Potensi sumber daya terumbu karang yang dimiliki Kabupaten Raja Ampat, merupakan bagiandari ”segitiga karang dunia” (<em>Coral Triangel</em>) yang terdiri dari Indonesia, Filipina, Papua New Guinea, Jepang, Australia.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Berdasarkan hasil penelitian The Nature Conservacy tahun 2002 terungkap, dari 537 jenis karang dunia, sebanyak 75 persen di antaranya terdapat di perairan Kepulauan Raja Ampat. Di sana ditemukan pula 1.074 jenis ikan karang dan 700 jenis moluska. Bahkan, di beberapa kawasan, kondisi terumbu karang masih sangat baik dengan penutupan karang hidup mencapai 90 persen. Ini terdapat di Selat Dampier, yakni antara Pulau Waigeo dan Pulau Batanta, Kepulauan Kofiau, Kepulauan Misool Timur Selatan, dan Kepulauan Wayag. <a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Terumbu karang di Raja Ampat memliki peran penting bagi biota laut, terutam di wilayah Samudra Hindia dan Pasifik.</p>
<p>Dalam rangkaian Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia 2011 (K2N UI 2011) ini, Raja Ampat adalah salah satu titik yang dituju. Saya berkesempatan menjadi salah satu peserta yang memiliki daerah tugas di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, lebih tepatnya di Kampung Meos Bekwan, Distrik Kepulauan Ayau. Pemilihan titik lokasi K2N UI 2011 ini disesuaikan dengan tema yang diusung, yaitu <em>Merekat NKRI di Pulau – Pulau Terdepan dan Perbatasan Menuju Masyarakat Mandiri. </em>Secara georafis, Kampung Meos Bekwan-Distrik Kepulauan Ayau merupakan salah satu bagian dari wilayah pulau perbatasan yang berpenghuni. Kepulauan Ayau tersebut berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik yang langsung menghubungkan dengan negara federal Palau, di bagian utara Provinsi Papua Barat. Adapun program yang akan kami laksanakan di Kampung Meos Bekwan tersebut adalah program yang berhubungan dengan kesehatan dan kebersihan, hukum, peningkatan kreativitas serta nasionalisme, dan pemanfaatan dan maksimalisasi nilai ekonomis sumber daya alam lokal yang dikembangkan menjadi menjadi Usaha Kecil Menengah.</p>
<p>Perjalanan kami, tim K2N UI 2011 wilayah tugas Raja Ampat, berangkat dari Surabaya menuju Papua pada tanggal 20 Juni 2011 menggunakan pesawat sekitar pukul 11.30 WIB. Kami mendarat di bandara Domine Eduard Osok, Sorong-Papua Barat, pada pukul 07.00 WIT. Kami harus melalui Sorong terlebih dahulu untuk bisa mencapai Kabupaten Raja Ampat. Tim K2N UI 2011 wilayah Raja Ampat ini terbagi jadi dua wilayah lagi yaitu Distrik Waigeo Utara dan Kampung Meos Bekwan-Distrik Kepulauan Ayau. Perjalanan kali ini adalah pengalaman pertama saya mengunjungi daerah timur dari Indonesia. Kota Sorong ini merupakan ibukota dari Provinsi Papua Barat. Wilayah Papua di sini ternyata tetap mencerminkan multikulturalisme yang menjadi ciri Indonesia karena yang saya jumpai sepanjang perjalanan bukan hanya saudara – saudara yang berdarah asli papua, tetapi juga banyak saya jumpai saudara-saudara yang dari segi fisik bukan orang asli tanah papua, seperti dari Sumatera, Manado, Jawa, dan lain – lain. Setelah tiba di Sorong kami berangkat menuju rumah salah satu dosen dari universitas lokal untuk beristirahat menjelang jam keberangkatan menuju Raja Ampat dengan menggunakan kapal motor. Setelah beristirahat, kami melanjutkan kembali perjalanan pada pukul 14.00 WIT. Dengan menggunakan truk bak terbuka, kami menuju dermaga pelabuhan Sorong. Kapal yang akan kami tumpangi adalah Kapal Motor Ave Maria 1, yaitu sejenis kapal rakyat yang bisa manampung ratusan penumpang. Tingkat religiusitas masyarakat terlihat dalam ritual berdoa bersama yang dilakukan sebelum kapal berangkat dan setelah sampai di tempat tujuan. Ritual berdoa tersebut dilakukan dalam tata cara Protestan dan dipimpin oleh seorang pendeta di kapal. Perjalanan di tempuh dalam waktu 3 jam, dan kami tiba di dermaga Waisai, Ibukota Kabupaten Raja Ampat. Di gerbang pelabuhan tersebut tertulis, “ Selamat Datang Duta – Duta Kristus”.</p>
<p>Dalam rencana awal, kami akan melanjutkan perjalanan menuju Kampung Meos Bekwan pada tanggal 22 Juni dengan menggunakan <em>speed-boat. </em> Akan tetapi, kondisi laut yang memasuki musim angin selatan mengakibatkan perubahan rencana. Perjalanan akan dilanjutkan pada tanggal 26 Juni menggunakan kapal perintis. Alasan penggunaan kapal perintis ini adalah ukurannya yang tidak terlalu kecil sehingga bisa menahan gelombang laut yang dikhawatirkan berbahaya. Kapal perintis ini adalah kapal yang dipergunakan rakyat untuk kebutuhan transportasi antar pulau – pulau di Raja Ampat dan juga Sorong. Karena ukurannya yang lumayan besar sehingga muatan penumpang dan barang bisa cukup banyak.</p>
<p>Selama di Waisai, saya mencoba beradaptasi dengan cara berkomunikasi masyarakat setempat. Masyarakat Papua di sini menggunakan bahasa Indonesia, akan tetapi intonasi atau dialek yang dipakai cukup berbeda dengan dialek yang sehari – hari saya pakai. Bahasa Indonesia yang digunakan bertempo cepat dan sering menggunakan singkatan – singkat dalam kata. Seperti kata ‘saya’ , yang diucapkan hanya ‘sa’. Pengetahuan mengenai pola bahasa dalam komunikasi ini mungkin bisa menjadi bekal nanti ketika kami sudah tiba di Kampung Meos Bekwan. Penduduk di Waisai sama halnya seperti di Sorong, terdiri dari berbagai etnis. Komunitas masyarakat yang muslim juga ditemukan di Waisai, rata – rata orang muslim yang ada di Waisai ini bukanlah warga asli dari etnis Papua, tapi dari para pendatang. Harga barang yang ada di Waisai ini juga relatif mahal jika dibandingkan dengan harga ada di Jakarta. Harga telur mencapai Rp 2000, Fotokopi Rp 300/halaman, <em>Print </em>Rp 1500/halaman, dan bahkan harga sayur kangkung satu ikat kecil bisa mencapai Rp 5000. Dari sedikit contoh tersebut mungkin bisa dikira – kira betapa biaya hidup di daerah ini cukup tinggi. Komoditas yang cukup murah adalah ikan, karena ikan bisa diperoleh dengan cukup mudah dan dalam jumlah yang besar di sini.</p>
<p>Kebiasaan warga Papua yang menurut saya unik adalah mereka biasa mengunyah sirih pinang di sela – sela aktivitasnya. Baik itu pegawai kantoran, pedagang, dan bahkan anak – anak di sela-sela aktivitasnya bermain. Terlalu seringnya kebiasaan itu dilakukan sehingga ada papan larangan yang saya temui bertuliskan “ Dilarang Membuang Sampah dan Ludah Pinang Di Sini”. Pinang di sini bisa temui dengan cukup mudah, baik yang masih berbentuk buah maupun yang sudah dikeringkan. Sebagai ibukota kabupaten, daerah Waisai ini sudah memiliki pembangkit tenaga listri sendiri yaitu pembangkit listrik dari tenaga diesel.</p>
<p>Pukul 08.00 WIT pada tanggal 26 Juni 2011, kami sudah bersiap di dermaga Waisai untuk melanjutkan perjalanan menuju titik lokasi K2N kami. Perjalanan yang kami tempuh menggunakan kapal perintis Raja Ampat 1. Perjalanan yang kami menuju Kampung Meos Bekwan diperkirakan ditempuh dalam waktu kurang lebih 24 jam. Kami menyusuri laut sepanjang pulau Waigeo, kami beranjak menuju utara dari pulau Waigeo. Dalam kapal yang menjadi catatan adalah betapa sulitnya masyarakat dalam memperoleh barang-barang pemenuhan kebutuhan. Kapal ini beraneka ragam muatan, mulai dari beras, semen, sayur dan buah, sampai perlengkapan kantor dan perabot rumah tangga seperti lemari dan kursi. Barang – barang tersebut dengan susah payah harus diangkut dari Sorong atau Waisai dengan tenaga sendiri untuk bisa sampai di tempat tujuan dan tentu dengan harga yang juga tidak murah. Pukul 02.00 WIT dini hari, kami tiba di dermaga di Kabare, Waigeo Utara, tim K2N UI 2011 yang bertugas di daerah Waigeo Utara. Setelah teman – teman kelompok Waigeo Utara turun kapal, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Kampung Meos Bekwan. Kampung Meos Bekwan ini terletak di Distrik Kepulauan Ayau, sebuah wilayah yang terletak di sebelah utara pulau Waigeo.</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi tiba di Distrik Kepulauan Ayau sekitar pukul  11.00 WIT. Kapal tidak bisa merapat ke Kampung Meos Bekwan yang berbentuk satu pulau karena daratan di sekitarnya adalah laut yang sangat dangkal. Kapal akhirnya berhenti di depan pulau Dorehkar, salah satu pulau yang terdekat dari pulau Meos Bekwan. Karena kapal tidak bisa merapat ke dekat pulau maka perjalanan menuju pulau Meos Bekwan akan dilanjutkan dengan <em>speed boat</em>. Tidak berapa lama, sekitar 15 menit, <em>speed boat </em>yang kami gunakan telah datang. Kami dijemput oleh aparat Distrik Kepulauan Ayau dan aparat Kampung Meos Bekwan. Sesampainya di Meos Bekwan kami disambut warga kampung dengan tetabuhan suling tambur, kesenian khas dari masyarakat Papua. Kami disambut seluruh warga kampung dari berbagai usia dengan penuh keramahan. Kami diantar menuju rumah yang sudah dipersiapkan untuk kami tinggali selama kami berada di Meos Bekwan. Menurut keterangan dari warga, rumah tersebut adalah rumah petugas kesehatan yang pernah bertugas di kampung ini.</p>
<p>Kesan pertama yang saya jumpai di Kampung Meos Bekwan ini adalah sebuah pulau yang tidak bertanah. Apa yang saya injak hanyalah pasir. Warga setempat juga terbiasa tidak mengenakan alas kaki, karena pasir putih yang menghampar memang terlihat bersih. Justru ketika menggunakan alas kaki, sebenarnya kaki menjadi lebih berat ketika melangkah. Dalam beberapa hari pertama, kami mencoba melakukan <em>assessment </em>untuk mendapat gambaran umum kondisi geografis maupun sosiologis dari masyarakat kampung Meos Bekwan. <em>Assesment </em> yang kami lakukan tidak lain adalah sebuah bentuk perkenalan awal kami dengan para warga agar terbina suasana yang akrab. Dalam <em>assessment </em>tersebut, yang kami lakukan adalah mendatangi rumah – rumah warga satu persatu untuk berkenalan sekaligus menanyakan data-data dasar keluarga.</p>
<p>Kampung Meos Bekwan ini seratus persen dihuni oleh suku Biak. Nama pulau ini sendiri diambil dari bahasa biak, Meos Bekwan yang berarti pulau panjang ( meos : pulau, bekwan : panjang). Menurut informasi yang kami dapatkan dari salah satu penduduk, kata Biak pada suku biak pun berasal dari bahasa setempat, yaitu kata <em>Biake, </em>yang artinya muncul/timbul. Secara historis, menurut warga yang paling tua di pulau ini, Bapak Hengki Burdam Wakrei. Secara historis, pulau ini bukan pulau yang dihuni begitu saja, pulau ini adalah pulau yang ditemukan dan akhirnya dibeli. Pulau ini dibeli oleh 2 keturunan di atas Pak Hengki. Pulau ini dibeli dengan menggunakan sejumlah piring gantung. Piring gantung adalah barang yang sangat berharga bagi masyarakat papua, dan sampai saat ini piring gantung pun masih digunakan sebagai mas kawin. Semenjak saat itulah Meos Bekwan ini dihuni oleh manusia. Warga papua yang pertama menempati Meos Bekwan ini adalah suku biak yang berasal dari marga Burdam. Seluruh warga di kampung ini adalah satu keluarga, yaitu dari marga Burdam. Walaupun nantinya marga Burdam tersebut akan terbagi – bagi lagi dalam marga yang lebih kecil lagi. Agama Protestan masuk ke kampung ini sekitar tahun 1930an , sebelumnya masyarakat menganut kepercayaan memuja patung berbentuk naga. Dan menurut informasi dari Pak Hengki, patung tersebut sudah dibawa ke Belanda ketika Protestan dibawa masuk Belanda ke pulau ini. Dalam hal beribadah, masyakarat sangat patuh sekali. Setiap hari, pagi dan sore selalu ada ibadah persekutan bersama.</p>
<p>Pulau Meos Bekwan ini memang sesuai dengan namanya, bentuknya memanjang dengan ukuran kurang lebih 12 hektar, panjang 1200 m dan lebar 100 m.  Seluruh pulau ditutupi dengan pasir berwarna putih. Vegetasi yang paling banyak tumbuh di sini adalah pohon kelapa dan sukun. Tumbuhan lainnya sulit untuk tumbuh di sini dikarenakan kondisi tanah yang berupa pasir. Sayuran pun sulit untuk ditemui di sini. Tumbuhan lain yang tumbuh adalah papaya dan pisang. Untuk pisang, menurut pengakuan warga, tumbuh tetapi tidak sampai berbuah dan kemudian mati. Karena kondisi tanah yang sulit untuk ditumbuhi inilah yang menyebabkan masyakat tidak bisa mengonsumsi sayuran secara rutin. Konsumsi makanan warga terbatas pada makanan laut seperti ikan dan <em>lola/bia</em> (sejenis mollusca/kerang-kerangan), jika pun memasak sayuran, yang dimasak adalah daun papaya atau pepaya muda. Konsumsi susu atau pun telur juga merupakan hal yang jarang bagi masyarakat. Hal ini disebabkan karena harganya yang sangat mahal, begitu pula dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya. Harga yang tinggi tersebut dikarenakan jarak tempuh untuk mencapai Meos Bekwan sangat jauh dan akses transportasi yang tidak mudah.</p>
<p>Masyarakat di kampung ini memang jumlahnya tidak terlalu banyak. Menurut dari survei yang kami lakukan ke masing – masing rumah, kampung ini terdiri dari kurang lebih 45 kepala keluarga yang semuanya bermarga burdam. Akan tetapi, jumlah masyarakat sejumlah ini tentu bukanlah hal yang patut untuk tidak diberikan perhatian lebih. Hal khusus yang memprihatinkan adalah masalah pendidikan dan kesehatan, masalah yang lumrah di tanah air ini (tapi mau sampai kapan hal seperti menjadi permasalahan ? ). Untuk masalah kesehatan, kampung Meos Bekwan ini benar – benar tidak memiliki tenaga kesehatan terdidik yang ditempatkan. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai serta informasi kesehatan terbaru. Tempat pelayanan kesehatan sudah didirikan di kampung ini, yaitu berupa bangunan poliklinik desa serta rumah dokter yang permanen. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada petugas yang menetap di sana. Masalah kesehatan pun di sini tidak hanya terbatas pada pelayanan pengobatan tetapi juga mencakup informasi kesehatan, seperti gerakan makanan beragam dan sehat, kebiasaan hidup bersih, kesehatan ibu hamil dan menyusui, kesehatan balita dan anak, serta informasi – informasi terbaru mengenai kesehatan. Permasalahan kesehatan yang sering dikeluhkan adalah masalah penyakit rematik dan pada anak – anak yaitu flu yang berkepanjangan disertai batuk.</p>
<p>Sarana pendidikan yang tersedia di kampung ini adalah Sekolah Dasar YPK Elim, yang terdiri dari tiga kelas, tanpa UKS, ruang guru, dan tanpa perpustakaan. Ketika kami tiba, tambak sedang ada pembangunan tiga ruangan baru. Saat ini siswa kelas satu digabung dengan siswa kelas dua, begitu pula dengan kelas tiga dan empat serta lima dan enam. Selama di kampung Meos Bekwan kami mendirikan Rumah Kreatif, dengan menggunakan poliklinik desa yag tidak terpakai. Rumah Kreatif ini merupakan tempat yang diperuntukkan sebagai pusat berkumpul dan berkreativitas masyarakat kampung dari berbagai usia. Dari pengamatan kami di rumah kreatif tersebut, rata – rata anak – anak di sini kesulitan untuk membaca dengan lancar hingga kelas 4-5. Kemampuan membaca dengan lancar hanya dimiliki anak-anak dari kelas 6, sehingga buku-buku yang kami kami bawa dan kami letakkan di ruang baca rumah kreatif kebanyakan dibaca oleh para pemuda dan orang tua. Anak – anak hanya melihat –lihat gambar dalam buku dan lebih banyak menggambar dan bermain di rumah kreatif. Gambaran dari hal dasar seperti membaca ini merupakan catatan penting bagi pendidikan Indonesia. Pendidikan di daerah perbatasan seperti kampung Meos Bekwan ini masih  membutuhkan perhatian lebih. Ketika keterampilan dasar dalam pendidikan formal seperti membaca masih belum diserap secara optimal oleh para siswa, maka bagaimana cara pendidikan tersebut disampaikan dan kontrol yang dilakukan perlu dipertanyakan. Akses yang sulit untuk sehingga sulit dijangkau menurut saya bukanlah alasan untuk tidak diperhatikannya pendidikan di sini. Daerah perbatasan justru bagian yang sangat penting bagi NKRI ini untuk segera dibenahi dan dibenahi perkembangannya. Hal ini dikarenakan sebagai wilayah perbatasan, wilayah ini adalah garda depan dari NKRI, jika garda terdepan tidak merasa pernah diperhatikan oleh negeri yang dibatasi olehnya, maka rasa cinta tanah air pun akan sulit untuk ditumbuhkan dan dijaga.</p>
<p>Mata pencaharian masyarakat benar-benar bergantung kepada hasil laut, mulai dari mencari ikan di laut, membuat ikan asin (masyarakat lokal menyebutnya ikan garam) dari ikan, gurita, dan lola, dan budidaya rumput laut. Masyarakat tidak bisa menjadikan pertanian atau perkebunan sebagai mata pencaharian karena kondisi tanah yang tidak memungkinkan. Kondisi tanah tersebut ternyata bisa diakali oleh beberapa warga dengan cara membawa tanah dari pulau lain untuk ditanami, akan tetapi tentu tanaman tersebut bukan ditujukan sebagai mata pencaharian tetapi sebagai pemenuhan kebutuhan keluarga, dan jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Walaupun masyarakat kampung Meos Bekwan perekonomiannya bertumpu pada hasil laut, masyarakat tidak mengeruk hasil laut sebanyak-banyaknya. Masyarakat saat ini sudah sadar pentingnya ekosistem laut. Wilayah laut sekitar pulau ini adalah wilayah Kawasan Konservasi Laut Daerah ( KKLD ) yang dikelola oleh Concervation International Indonesia (CII). Masyarakat menangkap ikan dengan cara ditombak, atau dalam bahasa setempat disebut <em>molo </em>(mencari ikan dengan menyelam dan menggunakan tombak). Ikan yang dicari pun dalam jumlah tertentu dan jenis tertentu sehingga tidak mengganggu kelestarian ekosistem laut. Hal yang patut disayangkan adalah harga jual ikan hasil tangkapan masyarakat masih rendah sekali. Padahal harga barang kebutuhan di sini sunggu tinggi. Masyarakat sendiri tidak bisa menangkap ikan dengan jumlah yang banyak karena terbatas pada cara penangkapan ikan yang sederhana dan terikat aturan konsevasi laut.</p>
<p>Untuk pelestarian spesies yang hidup di laut, masyarakat di sini memiliki kepercayaan tradisional/kearifan lokal yang disebut <em>Sasi</em>. Sasi ini adalah sebuah bentuk larangan untuk tidak menangkap spesies tertentu dari laut dalam jangka waktu tertentu. Sasi ini diberlakukan oleh gereja dan mulai diberlakukan ketika jumlah spesies tersebut sudah mulai berkurang dari biasanya, dan Sasi dihentikan ketka jumlahnya sudah kembali normal dan bisa untuk ditangkap tanpa mengganggu batas aman jumlah populasi. Sasi juga berlaku untuk tanaman ataupun keramba ikan milik warga. Sasi ini dipercaya memiliki karma bagi siapa yang melanggarnya.</p>
<p>Kebiasaan masyarakat yang paling unik adalah kebiasaan tidur di atas pasir. Masyarakat tidak tidur di kasur melainkan di pasir bersih yang diangkut dari pantai. Kebiasaan itu sudah berlangsung dari sejak lama. Kondisi cuaca yang panas di pulau ini memang sangat nyaman jika tidur di atas pasir putih, karena terasa sejuk. Tempat tidur pasir ini bahkan juga bisa ditemukan tidak hanya di dalam rumah warga, tetapi di halaman belakang rumah biasanya juga ada untuk tidur di waktu siang hari. Tidak heran jika setiap saat mungkin kita akan menjumpai warga yang berlumur pasir di tubuhnya. Seluruh daratan di pulau ini ditutupi pasir yang memiliki tekstur  yang sangat halus dan putih bersih benar – benar menjadi kunikan luar biasa di pulau ini. Hal unik lainnya adalah walaupun pulau ini sangat kecil dan sangat dekat dengan laut, sumber air tanah berupa sumur galian sama sekali tidak berasa asin. Kualitas air yang bagus inilah yang menyebabkan pulau ini tetap dihuni kehidupan manusia sampai saat ini.</p>
<p>Sebagai bagian dari kawasan Raja Ampat, tidak heran jika pulau ini memiliki panorama laut dan kondisi daratan yang indah, walaupun tempat ini bukanlah daerah tujuan wisata sampai saat ini. Akan tetapi bukan berarti kita hanya terpukau dan terfokus pada keindahan yang terhampar dan tentunya kita tidak boleh lupa bahwa di tempat ini dihuni warga negara Indonesia yang juga berhak mendapatkan hak-haknya seperti warga Indonesia lainnya. Di sini masih banyak yang harus kita semua benahi. Pulau ini sulit ditemukan dipeta Indonesia dan juga sulit ditemukan artikelnya di internet. Semoga tulisan ini bisa menyampaikan yang belum atau tak sempat diketahui oleh orang –orang yang peduli terhadap bangsa ini, terutama seputar kondisi wilayah perbatasan Indonesia khususnya Kampung Meos Bekwan-Raja Ampat.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Dimuat dalam <em>Penyusunan Rencana Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Kabupaten Raja Ampat </em>yang dibuat oleh Unit Pelaksanaan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Tahap II ( COREMAP II) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat,  2007</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Dimuat dalam artikel online <em> Melestarikan Terumbu Karang Raja Ampat </em> kerjasama antara <em>Coral Reef Rehabilitation and Management Program ( CRITIC)  </em>dan <em>COREMAP</em> edisi 18 Desember 2006.  http://regional.coremap.or.id/raja_ampat/berita/article.php?id=493</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=15&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/17/15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0893f2e84a05256d2d4806dfcb5bed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">donaniagaradinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://donaniagaradinatawall.files.wordpress.com/2011/08/281944_2068472004133_1614837039_1950777_7730187_n1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">281944_2068472004133_1614837039_1950777_7730187_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(MUNGKIN) SUDAH BOSANKAH KITA MENERIAKKAN KEMERDEKAAN (KOSONG) ?</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/17/mungkin-sudah-bosankah-kita-meneriakkan-kemerdekaan-kosong/</link>
		<comments>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/17/mungkin-sudah-bosankah-kita-meneriakkan-kemerdekaan-kosong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 08:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>donaniagaradinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[(MUNGKIN) SUDAH BOSANKAH KITA MENERIAKKAN KEMERDEKAAN (KOSONG) ?             17 Agustus 2011 adalah peringatan kemerdekaan Indonesia yang kesekian kalinya. 17 Agustus adalah sebuah perayaan, tidak lebih. 17 Agustus hanyalah repetisi yang terus digaungkan setiap tahunnya. 17 Agustus adalah sebuah pesta &#8230; <a href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/17/mungkin-sudah-bosankah-kita-meneriakkan-kemerdekaan-kosong/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=12&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>(MUNGKIN) SUDAH BOSANKAH KITA MENERIAKKAN KEMERDEKAAN (KOSONG) ? </strong></p>
<p align="center">
<p>            17 Agustus 2011 adalah peringatan kemerdekaan Indonesia yang kesekian kalinya. 17 Agustus adalah sebuah perayaan, tidak lebih. 17 Agustus hanyalah repetisi yang terus digaungkan setiap tahunnya. 17 Agustus adalah sebuah pesta pora yang menghambur-hamburkan anggaran.  17 Agustus adalah gegap gempita di seluruh lapangan upacara. Ketika terdengar gegap gempita 17 Agustus, yang dirasakan hingar-bingar segala bentuk perayaan. 17 Agustus dijadikan momen berharga untuk berkumpul dengan mendatangkan pengisi acara yang terkenal. 17 Agustus adalah saat- saat yang sangat berharga bagi para pedagang kaki lima atau pedagang dadakan untuk mengais rejeki, dan ini sepertinya jauh lebih penting. Setiap 17 Agustus beragam pula wacana muncul mengenai kemerdekaan. Wacana pesimistis, wacana penuh harapan, wacana motivasi, wacana kritik, serta bahkan wacana yang diada-adakan demi mengeruk rupiah.</p>
<p>Kemerdekaan memang sudah selayaknya diperingati. Akan tetapi memperingati kemerdekaan bukan berarti kemerdekaan adalah sebuah bentuk seremonial kenegaraan. Kemerdekaan juga bukan pesta rakyat semata. Kemerdekaan adalah perenungan dengan judul “ lalu apa yang akan kita lakukan”. Jika memang kemerdekaan selalu dihubung-hubungkan dengan bagaimana pahlawan yang telah bersusah payah berjuang, peringatan kemerdekaan tidak lebih dari peringatan kematian belaka. Para pahlawan yang telah gugur telah melaksanakan dengan baik tugasnya dalam membela apa yang mereka sebut Indonesia saat itu. Kemerdekaan terkadang diidentikkan dengan kebebasan. Kebebasan atas apa ?.  Kebebasan adalah sebuah istilah yang memiliki konsekuensi pilihan tanggung jawab. Tanggung jawab seperti apa yang akan kita pilih ? Atau bahkan tidak akan berani untuk memilih ?</p>
<p>Indonesia membutuhkan lebih dari sekedar wacana – wacana kemerdekaan. Kemerdekaan yang dielu-elukan hanya bersifat musiman. Sudah selayaknya kemerdekaan dimaknai sebagai sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab akan konsistensi pembaharuan. Perayaan kemerdekaan semakin tahun semakin terasa membosankan, kebosanan karena tidak ada kebijakan signifikan yang diambil dalam momentum kemerdekaan . Kemerdekaan tidak lebih diperingati dengan pesta. Jika memang kemerdekaan dimaknai sebagai tanggung jawab, maka sungguh sangat baik jika hari kemerdekaan adalah momentum evaluasi janji – janji dan program dari (yang seharusnya menjadi) pahlawan negara ini, para wakil rakyat. Kemerdekaan selayaknya bentuk tiupan semangat yang diperbaharui. Dan tentu kemerdekaan adalah saatnya kita mengevaluasi diri, sudah berapa banyak yang diri kita berikan untuk negeri ini selain hanya menuntut janji. Kelesuan dalam menyambut kemerdekaan bukan terletak dari tidak dirayakannya kemerdekaan secara besar-besaran, tetapi tidak adanya perubahan signifikan dari  budaya pesta pora yang selalu diselenggarakan tanpa memberikan arti yang mendalam mengenai kemerdekaan. Pesan yang diberikan hanya pesta dan pesta, sampai kapan ? . Kita lah yang harus menjawab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Biodata penulis</p>
<p>Nama : Dona Niagara Dinata</p>
<p>Tempat, tanggal, lahir :  Jambi 1 Juli 1990</p>
<p>Pekerjaan : Mahasiswa</p>
<p>Jurusan/Fakultas / Universitas : Ilmu Filsafat/Ilmu Pengetahuan Budaya/Universitas Indonesia</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=12&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/17/mungkin-sudah-bosankah-kita-meneriakkan-kemerdekaan-kosong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0893f2e84a05256d2d4806dfcb5bed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">donaniagaradinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Kritis : Proses Humanisasi  Pendidikan dan Pendobrakan Otoritas Mitos Akademis   Oleh Dona Niagara Dinata, Filsafat UI 2008</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/pendidikan-kritis-proses-humanisasi-pendidikan-dan-pendobrakan-otoritas-mitos-akademis-oleh-dona-niagara-dinata-filsafat-ui-2008/</link>
		<comments>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/pendidikan-kritis-proses-humanisasi-pendidikan-dan-pendobrakan-otoritas-mitos-akademis-oleh-dona-niagara-dinata-filsafat-ui-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 10:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>donaniagaradinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan Kritis : Proses Humanisasi  Pendidikan dan Pendobrakan Otoritas Mitos Akademis  Oleh Dona Niagara Dinata, Filsafat UI 2008   A.    Pengantar Mayoritas manusia Indonesia, khususnya kalangan akademisi akan mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau hal yang penting, dan kata &#8230; <a href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/pendidikan-kritis-proses-humanisasi-pendidikan-dan-pendobrakan-otoritas-mitos-akademis-oleh-dona-niagara-dinata-filsafat-ui-2008/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=8&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Pendidikan Kritis : Proses Humanisasi  Pendidikan dan Pendobrakan Otoritas Mitos Akademis  </strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh Dona Niagara Dinata, Filsafat UI 2008</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>A.    </strong><strong>Pengantar</strong></li>
</ol>
<p>Mayoritas manusia Indonesia, khususnya kalangan akademisi akan mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau hal yang penting, dan kata pendidikan di sini merujuk pada pengertian pendidikan dalam arti sempit , yaitu dunia persekolahan. Semua orang berlomba – lomba untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik, dan apa pun caranya. Sebagian besar orang tua dan bahkan pelaku akademis itu sendiri bisa melakukan apa pun untuk mewujudkan keinginannya untuk bisa mengeyam pendidikan yang terbaik. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan investasi yang paling menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalani kehidupan, bahkan mitos dalam dunia akademis bahwa pendidikan (persekolahan) adalah penentu masa depan menjadi semakin kuat. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah apa yang menjadi tujuan dari menjalani pendidikan tersebut ?</p>
<p>Pendidikan telah mengalami pereduksian pemaknaan. Pendidikan (baca ; persekolahan) telah menjadi sebuah ladang emas bagi individu , baik dari sisi penyelenggara maupun sebagai peserta didik dan keluarganya. Terjadi pereduksian pemaknaan yang sangat memprihatinkan di sini, pendidikan dianggap sebagai jalan yang untuk menuju masa depan yang diiming – imingi dengan kejayaan dalam artian kelimpahan dalam bentuk materi. Pendidikan dianggap sebagai sebagai salah satu jalan pembebasan dari keterbelakangan kemampuan secara finansial atau pun sebagai sarana untuk mempertahankan kekuatan finansial keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa, materi finansial memang hal yang penting terutama untuk mengukur kesejahteraan manusia, namun pemahaman yang melulu dan berorientasi hanya pada titik fokus itu telah men-dehumanisasi manusia. Dan dehumanisasi itu telah mengakar sebagai mitos yang dipercaya sebagian besar kalangan akademisi sebagai tujuan yang harus dicapai.</p>
<p>Pertanyaan seputar, “kuliah jurusan apa ?”, yang kemudian dilanjutkan dengan,“ setelah lulus prospek kerjanya di mana ? “, adalah pertanyaan yang menggambarkan bagaimana paradigma masyarakat kita dalam menilai pendidikan. Paradigma masyarakat telah terbelenggu salah satu mitos akademis ini semakin luas merebak dan diimani. Sehingga pendidikan yang telah terinstitusi tersebut dengan mudah bisa memperngaruhi orang – orang untuk mengikuti apa yang dikendaki oleh sistem institusi pendidikan tersebut. Dengan mengarahkan paradigma berpikir masyarakat maka akan semakin tipis kemungkinan bagi peserta didik tersebut untuk mengkritisi sistem pendidikan di mana dia berada, karena ada suatu keharusan untuk mengikuti sistem tersebut yang dia sendiri tidak sadar bahwa sistem tersebut telah mempengaruhi semua cara berpikirnya. Peserta didik telah dirobotisasi dengan tuntutan – tuntutan sistem.</p>
<p>Pendidikan yang semestinya untuk meningkatkan pemahaman manusia dan mengasah kepekaannya berubah menjadi pabrik pencipta manusia mekanistis, manusia yang dianggap memiliki rasio dan akal tidak lebih menjadi manusia yang menerima dan menerapkan saja apa nilai – nilai yang dianggap benar tanpa bisa memperhatikan nilai itu, karena dari pendidikan yang dijalani hanya sebagai sebuah jalan yang harus dilalui sebagai prosedur yang wajar dan benar, niatan untuk mengkritisi apakah nilai – nilai dan proses pendidikan yang dijalani apakah pendidikan yang mendidik atau malah merobotisasi telah berkurang atau malah telah menghilang dari sebagian besar peserta didik. Pendidik menjadi Tuhan di dalam dunia persekolahan, dia yang menentukan apa yang baik dan buruk. Dan peserta didik sebagai mesin penerima dan berpikir sebatas kerangka yang telah diberikan, lantas di mana letak pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia, manusia yang menjadi mesin penerima, dan hal ini dimungkinkan karena telah tidak disadari bahwa tujuan pendidikan telah bergeser, yaitu tujuan pragmatis secara finansial. Humanisasi melalui pendidikan telah ditumpulkan dengan tujuan diluar untuk humanisasi manusia itu sendiri. Intitusi pendidikan telah menjadi ruang pencuci otak.</p>
<p>Pendidikan yang telah diagungkan sebagai jalan yang menentukan kesuksesan seseorang kemudian dibaca oleh kaum liberal sebagai sebuah komoditas yang menggiurkan. Mitos akademis mengenai pendidikan tersebut membuat masyarakat terlena dan bersedia melakukan apa saja demi mendapat pendidikan yang telah menjadi barang komoditas. Pendidikan menjadi sebuah sistem yang tak terbantahkan kebijakannya, karena pendidikan dianggap sebagai tuhan yang baru, yaitu sebagai gudang kebenaran dan penentu nasib manusia, pendidikan menjadi memiliki otoritas untuk mengatur pola berpikir masyarakat, dan pola berpikir yang diatur tersebut diarahkan agar peserta didik hanya mengikuti sistem saja sehingga tidak mengkritisi apa yang diterimanya dari proses pendidikan tersebut. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan mempertahankan kelanggengan sistem pendidikan yang ada tersebut. Peserta didik hanya diprogram sedemikian rupa sehingga bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada, bukan untuk merubah realitas yang ada.</p>
<p>Untuk itulah perlu adanya peninjauan ulang terhadap cara pandang masyarakat  terhadap pendidikan. Pendidikan yang diagung – agungkan semestinya juga dicurigai sebagai upaya robotisasi mentalitas dan pikiran manusia.  Pendidikan harus diantisipasi sebagai sebuah tindakan pemanipulasian dari tujuan yang tersembunyi. Dan untuk membahas masalah ini, penulis mencoba bertitik tolak dari kerangka pikir filsafat pendidikan yang dicuatkan oleh Paulo Freire.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>B.     </strong><strong>Teori Pendidikan Kritis Dari Paulo Freire</strong></li>
</ol>
<p>`               Paulo Freire adalah tokoh pendidikan yang sangat kontroversial. Ia menggugat sistem pendidikan yang telah mapan dalam masyarakat Brasil. Bagi dia, sistem pendidikan yang ada sama sekali tidak berpihak pada rakyat miskin tetapi sebaliknya justru mengasingkan dan menjadi alat penindasan oleh penguasa. Karena pendidikan yang demikian hanya menguntungkan penguasa maka harus dihapuskan dan digantikan dengan sistem pendidikan yang baru (Marthen Manggeng : 2005).<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Dari pendapatnya tersebut maka Freire mencoba memberikan beberapa alternatif mengenai pendidikan yang bisa menyadarkan manusia  bahwa ia bukan hanya tinggal “di dalam dunia”, tetapi juga “bersama dunia”.</p>
<p>Freire mengkritik pendidikan yang bernuansa “gaya Bank”, maksud istilah ini adalah pendidikan tersebut sistem seperti sistem siklus di Bank, dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada peserta didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Peserta didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya peserta didik itu sendiri yang “disimpan” sebab miskinnya daya cipta. Karena itu pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia. Pendidikan yang bercorak seperti ini menganggap manusia adalah sebuah barang statis yang hanya berfungsi sebagai wadah penyimpanan. Manusia dianggap tidak memiliki daya cipta dan kreatifitas.</p>
<p>Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada peserta didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>. Kesadaran tumbuh dari pergumulan atas realitas yang dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri peserta didik. Freire membagi empat tingkatan kesadaran manusia, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong>Kesadaran intransitif</strong> , dimana seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam masa kini yang menindas.</li>
<li><strong>2.      </strong><strong>Kesadaran semi intransitif </strong>atau kesadaran magis. Kesadaran ini terjadi dalam masyarakat berbudaya bisu, dimana masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran ini adalah fatalistis. Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau hidup dalam ketergantungan.</li>
<li><strong>3.      </strong><strong>Kesadaran Naif</strong>. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas, tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif, seperti: mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog.</li>
<li><strong>4.      </strong><strong>Kesadaran kritis transitif</strong>. Kesadaran kritis transitif ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah &#8211; masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan menurut Freire, pendidikan yang baik dan bertujuan untuk membebaskan aktualisasi kehumanisan dari seorang manusia terletak pada tingkat kesadaran kritis transitif. Pada titik kesadaran inilah manusia bisa memikirkan dirinya merupakan hal yang tidak harus selalu sama dengan apa yang ada disekelilingnya. Kesadaraan transitif ini kesadaran yang berfungsi untuk bisa menerima ataupun menolak. Dan pemahaman Freire terhadap manusia adalah, “<em>what man will be”, </em>bukan “<em>what man is”. </em>Sehingga di sini dipahami bahwa manusia itu dihadapkan pada dunia bukan hidup hanya menyesuaikan dengan dunia. Tetapi membuat pilihan sendiri. Untuk mencapai pendidikan yang bersifat humanisme maka yang perlu dicapai terlebih dahulu adalah pembebasan, dan pembebasan tersebut menurut Freiere di dapat dengan cara dialogika, dialogika ditempatkan sebagai pemebebasan, dan antidialogika sebagai penindasan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>C.    </strong><strong>Paradigma Pemahaman Pendidikan Dan Pelaksanaanya di Indonesia</strong></li>
</ol>
<p>Pendidikan di Indonesia merupakan hal yang tidak kalah penting dibandingkan dengan kebutuhan untuk berpolitik. Masyarakat mayoritas sangat setuju dengan bahwa pendidikan yang ada adalah tempat untuk mencar kebenaran sekaligus sebagai tempat untuk memperbaiki masa depan. Masyarakat sangat mempercayakan pendidikan anak – anaknya kepada lembaga pendidikan tersebut sehingga tidak terlalu memperhatikan dan mengkritisi sebenarnya pendidikan yang ada ini apakah merupakan sebuah penanaman nilai yang murni tanpa maksud lain atau malah tidak menyadari bahwa pendidikan yang terlaksana tersebut adalah pendidikan yang ternyata adalah pendidikan yang menurunkan tingkat kekeritisan dan kepekaan peserta didiknya.</p>
<p>Pendidikan  berlangsung berkat peran serta individu dan kesadaran sosial peradaban. Proses ini berlangsung tanpa disadari hampir sejak lahir, dan terus mewarnai kekuatan, mengisi kesadaran, membentuk kebiasaan, serta membangkitkan perasaan dan emosi individu. Tetapi secara tidak sadar, pendidikan ternyata mengandung tujuan pewarisan akumulasi modal peradaban<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>. Peserta didik menjadi pewarisnya. Tetapi pewarisan tersebut ternyata hanya sebatas pewaris, karena dalam pendidikan yang ada, warisan tersebut harus dipertahankan sebagai nilai yang benar dan peserta didik harus beradaptasi dengan nilai tersebut. Peserta didik tidak terlalu diarahkan untuk bisa merubah nilai yang telah ada sebelumnya. Peserta didik diwajibkan agar bisa menguasai apa yang telah diberikan, dan bisa sama dengan apa yang telah diberikan.</p>
<p>Proses pendidikan itu sendiri memiliki dua sisi, yaitu sisi psikologis dan sisi sosiologis. Dua sisi tersebut tidak ada yang tidak lebih penting. Kedua – duanya penting dalam proses pendidikan itu sendiri. Tetapi yang mendasari dari bagaimana hasil proses pendidikan tesebut didapat adalah sisi psikologis. Sisi psikologis ini yang dibentuk oleh dunia pendidikan, dan sisi sosiologis pun juga turut memberikan peranan, ada dialog antara sisi psikologis dan sosiologis. Sisi psikologis ini selain berdasarkan ­<em>nature (genetis) </em> juga berdasarkan <em>nurture (pengasuhan), </em>dan pengasuhan di sini tidak lain adalah sisi sosiologis, perlakuan dan invasi pemahaman dari masyarakat yang juga membentuk sisi psikologis. Mentalitas peserta didik akan ditentukan dari proses pendidikan itu sendiri yang ternyata menganut paham behavioristik yang akan merobotisasi peserta didik itu sendiri. Dalam proses behavioristik tersebut peserta didik diberikan stimulus dan respon yang telah diatur sehingga mentalitas psikologis yang tercipta dari proses itu adalah mentalitas “penurut” yang menerima apa pun tanpa berusaha untuk menolak dan mengkritisinya. Karena jika tidak sesuai dengan yang telah diajarkan atau  respon yang diberikan tidak sesuai dengan yang telah ditentukan, maka peserta didik dianggap salah. Dan sebagai manusia tentu tidak ingin dianggap salah, sehingga peserta didik hanya mengikuti apa yang disebut – sebut sebagai kebenaran, dan anak baik dan pintar adalah kategori untuk mereka yang patuh dan penurut. Di sini terdapat sebuah penindasan, penindasan atas kebebasan  intelektualitas dalam upaya penolakan. Logika berpikir peserta didik telah diatur agar sejalan dengan logika dari sistem yang sebenarnya adalah untuk melanggengkan kekuasaan yang berada dibalik sistem tersebut. Pendidikan yang ada menutup adanya ruang dialog antara peserta didik dan pengajar, dialog dalam memperdebatkan nilai yang diajarkan apalagi jika bersifat sanggahan akan dianggap salah. Pendidikan juga dijauhkan dari realitas. Maksudnya di sini para peserta didik dituntun untuk memahami realitas seusai dengan perspektif yang telah dibentuk oleh sistem dari pendidikan itu sendiri. Padahal untuk bersentuhan dengan realitas, seorang manusia haruslah menyentuh sendiri realitas tersebut, bukan menyentuh menggunakan kerangka berpikir yang telah  diberikan atau dibentuk, sehingga pemahaman yang ada bukanlah pemahaman bentukan, melainkan pemamahan yang merupakan penalaran sendiri. Dengan kata lain sebenarnya pendidikan yang terselenggara ini merupakan pendidikan yang membungkam pikiran untuk bisa berkreasi. Pikiran telah diprogram, bukan untuk memprogram.</p>
<p>Selain itu, mentalitas peserta didikpun juga dibentuk oleh masyarakat itu sendiri sebagai aspek sosiologis. Pandangan umum masyarakat yang telah men-Tuhan-kan kekuasaan pendidikan sebagai sumber yang membawa kebenaran, menyebabkan sejenis ketakutan terhadap sistem pendidikan tersebut. Mitos akademis pun bermunculan akibat dari aksi men-Tuhan-kan tersebut. Pertama, setiap keluarga dalam masyarakat meyakini bahwa pendidikan adalah sebuah investasi untuk menjamin kesejahteraan hidup. Pandangan itu memang tidak salah, tapi akan menjadi salah jika itu menjadi sebuah orientasi utama. Karena ketika pendidikan telah dianggap sebagai sebuah jalan yang tepat dan telah sesuai, sesungguhnya daya kritis dan kepekaan terhadap memandang realitas dan bagaimana tujuan yang sebenarnya dari sistem tersebut sudah tidak bisa dipergunakan lagi. Manusia tersebut telah diperbudak iming – iming masa depan yang cerah, tanpa mempertimbangakan variabel lainnya. Kedua, sebagai tindak lanjut dari yang pertama, maka akan muncul ketakutan jika tidak mentaati sistem dan nilai yang dibawa oleh sistem pendidikan tersebut. Ketakutan itu muncul ketika pendidikan tersebut sudah dianggap memiliki aturan dan sistem nilai sendiri yang bakal bisa membawa peserta didik mencapai tujuannya. Jika samapi terjadi sebuah penggugatan terhadap sistem tersebut , maka dikhawatirkan peserta didik akan gagal, karena tidak mengikuti sistem yang telah diberlakukan dan nilai yang telah dipatenkan sebagai kebenaran. Ketiga, menempuh pendidikan yang difokuskan kepada keinginan yang semata – mata untuk mencari kesejahteraan pribadi sebagai hasil dari investasi akan menyebabkan peserta didik menjadi masa bodoh dengan semua yang terjadi, baik dalam sistem tersebut maupun kehidupan dunia luar, dan akibatnya adalah menumpulnya kreasi manusia untuk menegasi. Keempat, pendidikan yang ternyata telah di-Tuhan-kan tersebut, yang menjadi tempat yang benar – benar dipercayakan sebagai tempat yang aman untuk perkembangan manusia sejak kecil, padahal tanpa disadari , pendidikan intitusional tersebut telah menyelipkan kesadaran yang telah terancang dengan misi – misi tertentu ke dalam kesadaran manusia. Dan hal ini luput dari pendangan masyarakat tentang pendidikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>D. Proses Pendidikan kritis sebagai proses pembebasan potensi kemanusiaan manusia</strong></p>
<p>Pendidikan kritis adalah teori  pendidikan yang meyakini  bahwa terdapat  muatan politik dalam semua aktifitas pendidikan. Teori ini dalam dalam pembahasan filsafat  pendidikan disebut juga sebagai aliran kiri, karena berlawanan dengan aliran pendidikan liberal dan konservatif. Teori pendidikan kritis ini tidak merepresentasikan satu gagasan yang tunggal. Tetapi para pendukung aliran ini disatukan dalam satu tujuan yang sama, yaitu memberdayakkan kaum tertindas dan mentransformasi ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat melalui media pendidikan (Peter McLaren, 1998). Pendidikan yang ditawarkan oleh aliran pendidikan kritis ini adalah pendidikan yang menekankan  bagaimana memahami, mengkritik, memproduksi, dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memahami realitas hidup dan mengubahnya, jadi tidak sekedar mengetahui pengetahuan saja. Ada proses pengolahan dan reproduksi gagasan di dalamnya. pendidikan kritis mengambil unsur-unsur konstruktif dari mazhab Frankfurt dan posmodernisme yang kemudian dicangkokkan dalam upaya mengontruksi satu bentuk pendidikan yang membebaskan. Artinya, pendidikan harus bisa menjadi medium bagi kritik sosial, tidak sebatas pengkodean peserta didik.</p>
<p>Pendidikan kritis menekankan bahwa jalannya proses pendidikan tidak semata – mata hanya sebagai proses pengkodean/kodeisasi atas peserta didik, tetapi kode – kode yang didapat hanyalah sebagai modal untuk membantu proses berpikir dari peserta didik itu sendiri. Salah satu tema yang menjadi pembasan dalam pendidikan kritis adalah tentang kapitalisme karena pengaruhnya yang besar dalam kehidupan masyarakat modern. Apa yang dihasilkan dari rahim kapitalisme adalah kebudayaan positif dan rasionalitas teknokratik/instrumental. Ilmu yang disampaikan kepada peserta didik dalam budaya ini adalah ilmu yang mengorientasikan mereka untuk beradaptasi dengan dunia masyarakat industri, yaitu kehidupan masyarakat sekarang. Proses pembelajaran akhirnya menjadi sebuah penganugerahan barang jadi, pengetahuan dianggap sebagai barang jadi. Padahal dalam pendidikan kritis pengetahuan adalah sesuatu nilai yang didapat sebagai hasil penemuan dialogis bersama, antara peserta didik dan pengajar. Sehingga dalam pembelajaran terdapat refleksi dari dalam diri peserta didik. Posisi antara pengajar dan peserta didik dalam metode pendidikan seperti ini adalah relasi antara subjek dan subjek. Karena kedua belah pihak adalah dua pihak yang saling memberikan reaksi sehingga menghasilkan sintesa pengetahuan. Jika pendidikan adalah sebuah pemberian pengetahuan yang sudah jadi, di mana peserta didik tidak tahu menahu asal muasal dari pengetahuan tersebut, maka yang terjadi adalah pengobjekkan atas peserta didik, karena pengetahuan adalah barang jadi, pengajar sebagai subjek yang memberikan dan peserta didik adalah objek yang ditempeli dan dimasuki pengetahuan yang sudah jadi tersebut.</p>
<p>Proses pendidikan kritis ini lebih mengedepankan “bagiamana memikirkan suatu hal (<em>how to think) </em>ketimbang apa yang dipikirkan ( <em>what to think </em>). Sehingga dalam pendidikan kritis yang diutamakan adalah bagaimana proses dari pendidikan bisa dipahami dan diikuti oleh peserta didik dengan baik. Dan di sini metodologi dalam proses pembelajaran tersebut menjadi lebih penting, di dalam proses ini termuat bagaimana jalan berpikir, berdiskusi, berdebat, dan mengapresiasi pemikiran orang lain menjadi hal yang lebih penting. Dan dialog menjadi jalan pembuka penerapan pendidikan kritis ini.</p>
<p>Proses dialog akan menghasilkan apa yang disebut Freire dengan <em>conscientization</em>, yaitu proses berkembangnya kesadaran. <em>Conscientization </em> adalah proses dimana mansia mempunyai <em>critical awareness</em> sehingga mampu melihat secara kritis kontradiksi-kontradiksi sosial yang ada disekelilingnya dan mampu mengubahnya. Pendidikan kritis menganggap bahwa tujuan pendidikan itu sebenarnya adalah untuk meningkatkan kesadaran peserta didik, dari kesadaran magis dan naïf, menuju kesadaran kritis. Untuk menuju pendidikan kritis tersebut ada tiga tahapan yang harus dilewati, yaitu<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> :</p>
<p>-          <em>Naming, </em>tahap menanyakan sesuatu (<em>what is the problem ?)</em>, tahap ini bertujuan untuk membentuk kepekaan terhadapa realitas sosial yang terjadi disekitar.</p>
<p>-          <em>Reflecting, </em>tahap menanyakan  pertanyaan mendasar untuk mencari persoalan utama (<em>Why is it happening), </em>tahap ini dimaksudkan agar peserta didik dibiasakan untuk berpikir kritis dan reflektif.</p>
<p>-          <em>Acting, </em>tahap pencarian solusi atau alternatif pemecahan <em>masalah (what can be done to change the situation)</em> . Tahap ini adalah tahap yang bersifat praksis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari tahap – tahap tersebut terlihat bahwa pendidikan kritis bukan sebuah wacana yang sebatas teori belaka, namun semua teori praksis yang harus diimplementasikan. Karena kebebasan tidak bisa hany diciptakan dari wacana kebebasan, namun harus ada aksi pembebasan.  Yang  ingin dicapai dalam pendidikan kritis adalah bagaimana kesadaran manusia itu bisa  disadarkan dari kesadaran semu. Kesadaran aktif yang kritis dan reflektif harus segera dibangkitkan. Kesadaran kritis yang akan menyingkap apa yang sebenarnya yang terjadi dalam realita. Dominasi pengajar, kekakuan, dan macetnya suatu dialog dalam proses pendidikan dan pengajaran, harus digantikan percakapan kritis, dialog yang hidup dan kedewasaan peserta didik meraih jati dirinya. Pendidikan kritis ini dibentuk untuk bisa membebaskan semua potensi yang ada dalam diri manusia, tidak ada lagi pengekangan dengan pembudayaan budaya pendidikan yang bersifat injeksi ilmu semata. Selain itu, mitos – mitos akademis yang dipercayai masyarakat sebenarnya adalah alat untuk menumpulkan kekritisan masyarakat serta peserta didik dalam.</p>
<p>Mitos akademis  secara tidak langsung menciptakan otoritas yang secara tidak langsung telah mengatur  paradigma berpikir masyarakat. Mitos akademis yang telah men-Tuhan-kan pendidikan sebagai penentu nasib sehingga harus diikuti dan tidak boleh digugat harus segera ditepis. Dalam proses tersebut maka yang harus dibuka adalah adanya peluang berdialog, dan diberikan hak bicara. Dengan adanya hak bicara maka itu akan memunculkan sebuah aksi kultural, yaitu aksi untuk membentuk sebuah pemahaman dan penafsiran serta reproduksi makna yang baru. Dengan adanya reproduksi pemakanaan maka akan memunculkan situasi transformatif. Situasi yang selalu bergerak dan menghasilakn perubahan yang diharapkan sebagai progresitas bagi setiap manusia, bukan hanya untuk golongan tertentu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol start="4">
<li><strong>Kesimpulan</strong></li>
</ol>
<p>Pendidikan tidak akan pernah bebas nilai dan bebas ideologi. Akan ada sebuah ideologi yang mendasari berjalannya sebuah sistem pendidikan, dan itu memang tidak bisa dihindari. Tetapi yang harus diantisipasi adalah penumpulan kesadaran aktif dari peserta didik sehingga bisa dirobotisasi oleh sistem pendidikan. Pendidikan kritis yang mengutamakan mekanisme dialog dalam proses pendidikan harus dimunculkan. Relasi antara subjek dan objek harus segera diganti dengan relasi antara subjek dan subjek. Dengan menerapkan pendidikan kritis maka sistem pendidikan tersebut akan terhumanisasi dengan sendirinya, sistem pendidikan akan berjalan sesuai dengan nilai – nilai pemanusiaan untuk manusia. Pendidikan akan mempelakukan manusia sebagai manusia, bukan sebagai benda statis yang diprogram, tetapi makhluk kritis yang bisa menentukan pilihan dan paradigmanya sendiri. Dengan pendidikan kritis pun maka mitos akademis yang selama ini menjadi biang keladi dari pemulusan penumpulan kekritisan peserta didik akan bisa diruntuhkan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sumber Bacaan :</strong></p>
<h3>Absari, Masduki. 2009.  <em><a href="http://masdukiasbari.blogspot.com/2009/04/konsep-dasar-mazhab-pendidikan-kritis.html">Konsep Dasar Mazhab Pendidikan Kritis dan Tanggapan Atasnya</a> </em>. (artikel yang dimuat dalam <cite>masdukiasbari.blogspot.com/&#8230;/</cite><cite>konsep</cite><cite>-</cite><cite>dasar</cite><cite>-</cite><cite>mazhab</cite><cite>-</cite><cite>pendidikan</cite><cite>-</cite><cite>kritis</cite><cite>.html )</cite></h3>
<p>Manggeng, Marthen. <em>Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia. </em>Artikel yang<em> </em>Dimuat dalam INTIM &#8211; Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 &#8211; Semester Genap 2005</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pontoh , Ireine V. 2009. <em> Pendidikan Dasar Berbasis Pengalaman ( terj. Experience and Education, John Dewey). </em>Indonesia Publishing : Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  Ditulis oleh Marthen Manggeng, dalam tulisannya yang berjudul <em>Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia. </em>Dimuat dalam INTIM &#8211; Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 &#8211; Semester Genap 2005</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Daniel S. Schipani, <em>Religious Education Encounters Liberation Theology</em> (Alabama: Religious Education Press, 1988), p. 13. ( diambil dari  Marthen Manggeng, dalam tulisannya yang berjudul <em>Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia. </em>Dimuat dalam INTIM &#8211; Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 &#8211; Semester Genap 2005</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>   Ireine V. Pontoh. 2009. <em> Pendidikan Dasar Berbasis Pengalaman ( terj. Experience and Education, John Dewey). </em>Indonesia Publishing : Jakarta.</p>
</div>
<div>
<h3><a title="" href="#_ftnref4"><strong>[4]</strong></a>  Masduki Absari. 2009.  <em><a href="http://masdukiasbari.blogspot.com/2009/04/konsep-dasar-mazhab-pendidikan-kritis.html">Konsep Dasar Mazhab Pendidikan Kritis dan Tanggapan Atasnya</a> </em>. (artikel yang dimuat dalam <cite>masdukiasbari.blogspot.com/&#8230;/</cite><cite>konsep</cite><cite>-</cite><cite>dasar</cite><cite>-</cite><cite>mazhab</cite><cite>-</cite><cite>pendidikan</cite><cite>-</cite><cite>kritis</cite><cite>.html )</cite></h3>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=8&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/pendidikan-kritis-proses-humanisasi-pendidikan-dan-pendobrakan-otoritas-mitos-akademis-oleh-dona-niagara-dinata-filsafat-ui-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0893f2e84a05256d2d4806dfcb5bed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">donaniagaradinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TINJAUAN KRITIS ATAS DISIPLIN ILMU (Pseudo) Biologi : Ilmu Kehidupan Semu Biologi Sebagai ilmu Mekanistis . (oleh Dona Niagara Dinata)</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/tinjauan-kritis-atas-disiplin-ilmu-pseudo-biologi-ilmu-kehidupan-semu-biologi-sebagai-ilmu-mekanistis/</link>
		<comments>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/tinjauan-kritis-atas-disiplin-ilmu-pseudo-biologi-ilmu-kehidupan-semu-biologi-sebagai-ilmu-mekanistis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 10:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>donaniagaradinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[A.   Pendahuluan (Introduction) Secara etimologis biologi berasal dari bahasa Yunani, βίος, bios (&#8220;hidup&#8221;) dan λόγος,logos (&#8220;lambang&#8221;, &#8220;ilmu&#8221;). Secara epistemologis, biologi dikenal sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan. Biologi awalnya berkembang pada masa yunani kuno. Ilmu biologi dirintis oleh Aristoteles. Dalam terminology aristoteles, biologi adalah &#8230; <a href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/tinjauan-kritis-atas-disiplin-ilmu-pseudo-biologi-ilmu-kehidupan-semu-biologi-sebagai-ilmu-mekanistis/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=4&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.   </strong><strong>Pendahuluan (<em>Introduction</em>)</strong></p>
<p>Secara etimologis biologi berasal dari <a title="Bahasa Yunani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Yunani">bahasa Yunani</a>, βίος, <em>bios</em> (&#8220;hidup&#8221;) dan λόγος,<em>logos</em> (&#8220;lambang&#8221;, &#8220;ilmu&#8221;). Secara epistemologis, biologi dikenal sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan. Biologi awalnya berkembang pada masa yunani kuno. Ilmu biologi dirintis oleh Aristoteles. Dalam terminology aristoteles, biologi adalah filosofi alam, yaitu cabang dari filsafat yang menelaah permasalahan alam, seperti ilmu alam lainnya. Aristoteles melakukan penelitian sejarah alam di pulau <a title="Lesbos" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lesbos">Lesbos</a>. Hasil penelitiannya, termasuk <a title="Sejarah Hewan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah_Hewan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sejarah Hewan</a>, <a title="Generasi Hewan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Generasi_Hewan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Generasi Hewan</a>, dan <a title="Bagian Hewan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bagian_Hewan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Bagian Hewan</a>, berisi beberapa observasi dan interpretasi, dan juga terdapat mitos dan kesalahan. Istilah biologi dalam pengertian modern diperkenalkan secara terpisah oleh <a title="Gottfried Reinhold Treviranus (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gottfried_Reinhold_Treviranus&amp;action=edit&amp;redlink=1">Gottfried Reinhold Treviranus</a> (<em><a title="Biologie oder Philosophie der lebenden Natur (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Biologie_oder_Philosophie_der_lebenden_Natur&amp;action=edit&amp;redlink=1">Biologie oder Philosophie der lebenden Natur</a></em>, <a title="1802" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1802">1802</a>) dan <a title="Jean-Baptiste Lamarck" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Baptiste_Lamarck">Jean-Baptiste Lamarck</a> (<em><a title="Hydrogéologie (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hydrog%C3%A9ologie&amp;action=edit&amp;redlink=1">Hydrogéologie</a></em>, 1802). Namun, istilah biologi sebenarnya telah dipakai pada <a title="1800" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1800">1800</a> oleh <a title="Karl Friedrich Burdach (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Karl_Friedrich_Burdach&amp;action=edit&amp;redlink=1">Karl Friedrich Burdach</a>. Bahkan, sebelumnya, istilah itu juga telah muncul dalam judul buku <a title="Michael Christoph Hanov (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Michael_Christoph_Hanov&amp;action=edit&amp;redlink=1">Michael Christoph Hanov</a> jilid ke-3 yang terbit pada <a title="1766" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1766">1766</a>, yaitu <em><a title="Philosophiae Naturalis Sive Physicae Dogmaticae: Geologia, Biologia, Phytologia Generais et Dendrologia (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Philosophiae_Naturalis_Sive_Physicae_Dogmaticae:_Geologia,_Biologia,_Phytologia_Generais_et_Dendrologia&amp;action=edit&amp;redlink=1">Philosophiae Naturalis Sive Physicae Dogmaticae: Geologia, Biologia, Phytologia Generais et Dendrologia</a></em>. Obyek kajian <strong>biologi</strong> sangat luas dan mencakup semua <a title="Makhluk hidup" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makhluk_hidup">makhluk hidup</a>. Kata kunci dari Biologi ini adalah HIDUP.</p>
<p>Penjelasan di atas adalah pandangan mengenai ilmu biologi dalam pandangan akademik yang dipercaya selama ini. Ilmu biologi dipercaya sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan dan dapat menguak hal-hal yang belum diketahui seputar makhluk hidup. Namun sejauh ini yang dikaji biologi adalah hidup yang bersifat fisik semata, kajian yang meyangkut fungsional  dan interaksi antar komponen yang menyusun suatu jaringan dalam makhluk hidup atau sistem dalam lingkungan biotik maupun abiotik. Namun biologi itu sendiri tidak pernah mengkaji dan membahas hakikat atas apa yang disebut sebagai hidup. Pembahasan dalam biologi berkutat pada fungsi dan interaksi, sehingga biologi hanya menjadi ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang bersifat MEKANISTIS, kehidupan yang dibahas dalam biologi adalah kehidupan yang MEKANISTIS. Dan ternyata dengan sendirinya Biologi dalam praktiknya banyak tidak menghargai apa yang disebut sebagai hidup. Untuk itulah penulis mengangkat biologi sebagai objek yang akan dikaji secara kritis dalam sudut pandangan filsafat ilmu.</p>
<p><strong>B.   </strong><strong>Rumusan Masalah</strong></p>
<p>Adapun rumusan masalah yang disusun adalah sebagai berikut :</p>
<p>1.    Bagaimana sejarah munculnya dan perkembangan biologi sebagai suatu disiplin ilmu ?</p>
<p>2.    Metode pencarian kebenaran pengetahuan seperti apa yang diterapkan dalam biologi?</p>
<p>3.    Apakah biologi benar-benar merupakan ilmu yang membahas mengenai kehidupan secara komprehensif  atau hanya hidup yang bersifat mekanistik?</p>
<p>4.    Bagaimana bentuk salah persepsi mengenai biologi sebagai ilmu yang mengkaji masalah kehidupan ?</p>
<p>5.    Bagaimana pengertian kehidupan dari perspektif filsafat ilmu ?</p>
<p><strong>C.   </strong><strong>Tujuan</strong></p>
<p>Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :</p>
<p>-       <strong>Tujuan Umum</strong> : Memenuhi tugas akhir mata kuliah Filsafat Ilmu</p>
<p>-       <strong>Tujuan Khusus</strong> :</p>
<p>1.    Mengkritisi kembali asumsi mengenai biologi sebagai ilmu yang mempelajari mengenai kehidupan dan menggali kembali apa hakikat dari kata hidup.</p>
<p>2.    Menjernihkan makna kata “kehidupan” yang dibahas dalam biologi.</p>
<p>3.    Menjelaskan bahwa biologi adalah ilmu mekanis.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>D.   </strong><strong>Metoda</strong></p>
<p>Metoda yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metoda penelusuran kepustakaan baik dari monogram maupun literatur elektronik, yang kemudian diolah kembali melalui argumen-argumen kritis dari penulis menggunakan perspektif kritis dari filsafat ilmu. Teknik yang digunakan adalah <em>Philosopical Reasoning </em> berupa diskursus yang bersifat refleksi kritis dan logis. Teori yang akan digunakan untuk membedah ilmu biologi adalah teori kritis Karl Popper mengenai falsifikasi dan teori Whitehead.</p>
<p><strong><em>E.   </em></strong><strong><em>Thesis Statement</em></strong></p>
<p>Thesis Statement yang diangkat adalah :</p>
<p>Biologi bukanlah ilmu mengenai kehidupan dalam artian yang sebenarnya, biologi hanya sebuah ilmu yang mempelajari hal-hal yang bersifat mekanistis dan fungsional, tidak mengkaji kehidupan. Sehingga pandangan bahwa biologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan adalah tidak tepat sepenuhnya daan bahkan biologi cenderung menuju kepada tidak mengahargai apa itu kehidupan.</p>
<p><strong>F.    </strong><strong>Argumen Atas Biologi yang Salah Kaprah Secara  Epistemologi</strong></p>
<p>Biologi adalah ilmu yang mengkaji masalah kehidupan, tidak dapat dipungkiri, ilmu biologi begitu banyak memberikan sumbangsih kepada kesejahteraan kehidupan manusia, lewat biologi banyak penemuan – penemuan yang sangat bermanfaat. Contohnya vaksin atas penyakit yang berasal dari virus yang berbahaya bagi manusia, seperti penemuan vaksin untuk penyakit cacar yang pada masa lalu merupakan penyakit yang dapat membunuh manusia. Bagi biologi, hidup adalah kategori bagi makhluk – makhluk yang memiliki ciri tertentu, yaitu bernafas (respirasi), bergerak, makan (nutrisi), iritabilitas (tanggap terhadap rangsang), tumbuh dan berkembang, bereproduksi, Adaptif, mengeluarkan zat sisa. Namun penjelasan hidup dalam biologi hanya berhenti sampai di situ. Biologi dalam pengkajiannya mengalami kekosongan makna dalam kehidupan.</p>
<p>Biologi adalah ilmu yang telah didaulat oleh positivisme sebagai ilmu yang empiris tetap mempertahankan citranya sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan, maka biologi menjadi ilmu yang telah salah besar. Keempirisan dari positivisme, tidak dapat dipertahankan secara total dalam membahas kehidupan, banyak aspek – aspek kehidupan yang tidak dapat dijangkau oleh empirisme. Daerah “keimanan” misalnya. Keimanan seseorang juga merupakan bagian dari kehidupan, karena sikap sesorang dalam kehidupan dapat ditentukan dan dikendalikan oleh keimanannya. Aspek kehidupan lainnya adalah masalah “pilihan”, dalam kehidupan manusia selalu berhadapan dengan pilihan, dan di dalam biologi, pilihan dapat dikatakan tidak ada, semua muncul karena disebabkan determinasi faktisitas fisik. Contohnya, ketika dihadapkan pada kasus euthanasia, dalam biologi, kehidupan dinilai dengan definisi, kehidupan adalah sejauh masih berfungsinya sistem jaringan dalam tubuh dan batang otak. Sedangkan di dalam euthanasia tidak cukup diselesaikan dengan definisi hidup yang seperti itu, banyak pilihan-pilihan yang mesti dipertimbangkan dalam definisi hidup untuk menentukan kelanjutan kehidupan seseorang dalam kasus euthanasia.</p>
<p>.     Dalam konsep yang dibangun oleh Karl Popper, falsifikasi adalah sebuah kritisasi cara berpikir atas paradigma pengetahuan yang mengusung verifikasi sebagai pembenaran dalam kebenaran pengetahuannya.  Dan popper pun menolak atas demarkasi ilmu pengetahuan yang dikemukakan oleh pandangan ilmiah tradisional, yaitu, <em>sains sejati</em> berisikan hukum-hukum yang kebenarannya bisa dibuktikan melalui observasi (pengamatan) dan eksprimen (percobaan). Sebaliknya sains semu hanya berisikan fantasi yang tidak terbukti dengan fakta. Dari sinilah argumen untuk meluruskan pandangan atas biologi sebagai ilmu kehidupan dilanjutkan. Dalam biologi semua hal baru dapat dianggap benar ketika melewati tahap – tahap pengujian secara empiris. Dengan aliran metode sains seperti berikut ini :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari aliran metoda yang berlaku dalam sains (biologi) ini, titik berangkat biologi berawal dari observasi yang bersifat empiris. Falsifikasi pun dalam biologi modern sekarang ini (berkat teori kritis Karl Popper) juga diberikan ruang , dalam skema dapat dilihat pada bagian “<em>Develop new scientific or law”</em>. Di sini lah penulis ingin menggunakan paradigma falsifikasi Popper untuk mengevaluasi hakikat dari ilmu yang menaungi hal-hal empiris yang diobservasi tersebut.</p>
<p>Biologi yang  telah menjadi ilmu empiris, telah mengesampingkan pernyataan-pernyataan yang besifat teologis ataupun metafisik, sedangkan dua komponen tersebut adalah beberapa contoh bagian dari kehidupan, sesuatu yang menjadi kata kunci dalam biologi, ilmu mengenai kehidupan. Keberadaan biologi sebagai ilmu yang membahas masalah makhluk hidup dan bagian – bagiannya serta sistem interaksinya bukan sebuah hal yang salah, itu merupakan hal yang sangat bermanfaat. Namun yang menjadi permasalahan adalah ketika biologi dianggap sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan.  Menggunakan perspektif Popper mengenai falsifikasionisme, biologi selama ini diverifikasi sebagai ilmu yang mengkaji kehidupan, padahal hal tersebut adalah salah, kajian – kajian dan observasi yang berkaitan dengan mekanistik makhluk hidup dikategorikan sebagai bidang kajian biologi, contohnya, populasi. Yang dibahas dalam biologi mengenai populasi adalah kalkulasi dari jumlah hasil reproduksi makhluk hidup yang berasal dari spesies yang sama dan berada dalam satu lingkungan. Tetapi biologi tidak membahas masalah bagaimana populasi yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut, bagaimana dampaknya, bagaimana hubungan populasi dan ketersediaan lahan untuk tempat bekerja dan tempat tinggal, dan bagaimana pertimbangan kesejahteraan.  Selama ini biologi diverifikasi sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan. Verifikasi hanya berupaya untuk menunjukkan kelebihan dari satu teori (pengertian biologi)  sehingga mengkaburkan sisi keburukan dan kesalahan yang dikandungnya,</p>
<p>Dan dalam paradigma Popper, maka verifikasi selama ini atas citra biologi sebagai ilmu yang membahas kehidupan dapat difalsifikasi, dan itu dapat diterima. Setelah dianalisis, ternyata biologi dianggap sebagai ilmu yang membahas kehidupan tidaklah sepenuhnya benar, dan citra biologi selama ini sebagai ilmu yang membahas kehidupan adalah salah. Kehidupan yang dibahas dalam biologi telah mempersempit arti dan makna dari kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang diangkat dalam dan dibahas dalam biologi tidak lain adalah kehidupan yang merupakan sistem mekanisasi. Dilihat dari pengertian dan perkembangan biologi yang telah dipaparkan , terlihat jelas bahwa biologi mengalami salah pencitraan selama ini. Biologi adalah ilmu yang ternyata tidaklah membahas masalah kehidupan dalam artian yang sebenarnya yang komprehensif. Biologi hanya membahas sebatas mekanisasi yang terjadi dalam diri makhluk hidup dan bagaimana mekanisasi interaksi yang terjadi yang menyebabkan makhluk itu hidup, hanya sebatas itu , contohnya bagaimana proses respirasi berlangsung pada makhluk hidup, namun tidak membahas bagaimana hubungan respirasi tesebut dengan nilai-nilai hidup . Permasalahan kehidupan telah direduksi di dalam biologi, kehidupan yang membutuhkan refleksi kritis direduksi menjadi sistem mekanis. Kehidupan dipandang tidak lain sebatas mekanisasi.</p>
<p>Dalam biologi interaksi antara tiap makhluk hidup dibahas, baik antar sesama makhluk hidup maupun dengan lingkungannya. Dan ini pula yang disebutkan oleh Whitehead :</p>
<p><em><strong>a.    </strong></em><em><strong>Alam dunia sebagai suatu proses organis</strong></em><em></em></p>
<p>Proses tersebut merupakan suatu proses organis. Artinya, ada saling keterkaitan antara unsur-unsur yang membentuknya dan keseluruhan wujud bukan hanya sekedar penjumlahan unsur-unsur bagiannya.</p>
<p><em><strong>b. Alam dunia sebagai jaringan satuan-satuan aktual</strong></em></p>
<p>Alam dunia dan realitas secara keseluruhan, dalam pandangan Whitehead merupakan jaringan atau keterjadian satuan-satuan aktual yang saling meresapi, mempengaruhi. Setiap satuan aktual secara esensial terjalin dengan satuan-satuan aktual yang lain.</p>
<p><em><strong>c. Alam dunia terus berubah dalam waktu</strong></em></p>
<p>Bagi Whitehead, alam dunia merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis, suatu proses yang terus menerus “menjadi”. Alam dunia dengan segala isinya merupakan suatu rangkaian peristiwa dengan puncak-puncak atau gumpalan-gumpalan gelombang pengalaman.</p>
<p>Dari teori yang dipaparkan oleh whitehead tersebut, maka dapat kita lihat bahwa, kehidupan bumi yang merupakan bagian dari kosmos, adalah sebuah kehidupan teratur (kosmos) yang saling berinteraksi di dalamnya, ada satu keterkaitan antara satu sama lain, dan dalam menjaga sifat kosmos (teratur) tersebut, maka interaksi adalah interaksi yang berdasarkan nilai, namun dalam biologi, pembahasan mengenai nilai sangat amat minim, sehingga ilmu hidup yang dibahasa dalam biologi adalah ilmu hidup yang hampa nilai. Nilai kehidupan tidak dapat dibahas karena nilai kehidupan tidak dapat diukur secara empiris. Nilai hidup yang dimaksud adalah bagaimana menghargai keberadaan “hidup yang lain”, contohnya hewan, dalam eksperimen biologi banyak digunakan hewan – hewan yang yang sebenarnya juga memiliki hidup dan mereka juga merasakan sakit. Bagaimana nasib hewan – hewan atau pun tumbuhan yang mengalami kecacatan sebagai akibat dari percobaan laboratorium tidak pernah dibahas dalam paradigma nilai, kecacatan tersebut dipandang sebagai hal yang wajar dalam percobaan ilmiah. Lantas di mana nilai hidup dalam “HIDUP” yang dikaji dalam biologi.</p>
<p><strong>G.     </strong><strong>Refleksi Kritis</strong></p>
<p>Kehidupan adalah suatu bahasan yang memiliki makna yang dapat ditinjau dengan sangat luas dari berbagai aspek. Kehidupan memiliki dimensi fisik dan metafisika, kehidupan penuh dengan keterbatasan sekaligus  pilihan-pilihan bebas. Dalam jajaran ilmu pengetahuan , biologi diklaim sebagai ilmu yang membahas kehidupan, pemahaman seperti itu diterima selama ratusan tahun dalam dunia akademis, penerimaan dalam dunia akademis tersebut berkaitan dengan dunia akademis yang telah teracuni oleh paradigma positivisme bahwa ilmu pengetahuan yang sejati adalah ilmu pengetahuan yang dapat diuji secara empiris dan dapat diobservasi. Dengan bertolak dari paradigma tersebut maka biologi diterima sebagai sebuah ilmu pengetahuan , karena biologi begitu sarat dengan hal – hal yang bersifat empiris.</p>
<p>Sayangnya keterterimaan biologi sebagai ilmu pengetahuan dalam dunia akademik yang sarat dengan paradigma positivisme tersebut tidak dibarengi dengan kritisisasi atas kesesuaian antara pengertian dari tema pembahasan ilmu tersebut dan objek kajiannya. Ini yang terlupakan selama beratus -  ratus tahun. Selama beratus – ratus tahun Biologi diterima sebagai ilmu yang membahas kehidupan, dan selama beratus – ratus tahun pula pengertian kehidupan telah tereduksi dan tidak disadarinya ketereduksian tersebut. Apa yang dipelajari dan yang dihasilkan oleh biologi tidak dapat dipersalahkan dan hal-hal tersebut juga bermanfaat. Yang perlu untuk dikoreksi adalah biologi tidak dapat merepresentasikan apa itu kehidupan dalam artian yang komprehensif.</p>
<p>Kehidupan yang diangkat dalam biologi adalah kehidupan yang penuh dengan fakta-fakta bahwa kehidupan adalah suatu sistem yang tidak memiliki kebebasan di dalamnya, kehidupan terbatas dalam faktisitas biologis, dan bahkan untuk menembus faktisitas tersebut biologi yang notabene ilmu kehidupan tidak akan bisa memberikan jawaban yang bersifat pasti dan ilmiah, contohnya dalam kasus teori evolusi. Evolusi kehidupan dimasukkan dalam kajian biologi, namun biologi itu sendiri tidak dapat memberikan jaminan secara teruji bahwa evolusi adalah sebuah kebenaran dalam kehidupan. Dan jawaban – jawaban yang diberikan oleh biologi merupakan jawaban-jawaban yang bersifat spekulatif ilmiah. Tidak ada kepastian mengenai faktisitas yang dapat ditembus, semua hanya perkiraan. Di sinipun keempirisan dari biologi patut dipertanyakan.</p>
<p>Kehidupan yang dibahas dalam biologi sendiri adalah kehidupan yang semu, yaitu kehidupan yang tanpa nilai. Nilai yang ada adalah sebatas hidup atau tidak hidup, namun isi dari hidup tersebut tidak dibahas oleh biologi. Kehidupan yang dibahas tidak lain adalah kehidupan semu. Untuk mengisi kekosongan tersebut ada ilmu yang kemudian membantu biologi, yaitu <strong>Bioetika</strong>, namun bioetika tidak lah lantas dapat membuat biologi menjadi ilmu yang benar – benar membahas masalah kehidupan, bioetika membahas masalah nilai moral, di mana moral bukanlah permasalahan dari ilmu empiris seperti biologi. Bahasan kehidupan yang ditawarkan oleh biologi adalah kehidupan semu (<em>pseudo-life)</em>, kehidupan mekanis tanpa nilai. Bukan kehidupan yang bernilai dan pilihan menjadi kekayaan dalam hidup. Biologi menawarkan kehidupan yang penuh penjara faktisitas yang tidak mungkin tertembus. Kehidupan direduksi menjadi  sistem mekanis, yang baik jika berfungsi, tidak baik jika tidak berfungsi.</p>
<p>Biologi itu sendiri sebenarnya adalah ilmu yang bersifat mekanistik. Pembahasan yang termuat dalam biologi adalah seputar sistem mekanis, fungsionalitas, sistem interaksi dsb, tapi dalam cakupan makhluk hidup. Biologi sebenarnya memekanistikkan pemahaman mengenai apa itu kehidupan. Mekanisasi kehidupan dalam biologi tidak membahas makna dari kehidupan yang ada. Hidup yang dibahas dalam biologi tidak membahas apa inti penyebab yang menyebabkan kehidupan ini. Hidup yang dibahas hanya sekedar pengkategorian bagaimana sesuatu disebut hidup dan bagaimana tidak dapat disebut hidup.</p>
<p>Mekanistik yang dimaksud di sini adalah kehidupan dipandang sebagai sistem yang bertindak seperti mesin, mempelajari kinerja mesin tersebut (contoh : pengkajian masalah organ manusia) tanpa adanya keterlibatan nilai didalamnya, yang dibahas adalah bagaimana sistem kerjanya, bagaimana fungsinya, dan bagaimana hubungannya dengan sistem yang lain, sistem nilai tidak dapat masuk kedalam sistem mekanistik seperti ini, sehingga hidup yang dibahas adalah hidup yang hampa nilai, hidup yang semu.  Manusia sendiri sebagai individu yang dapat berusaha memaknai dan memberikan makna, dalam perspektif biologi, manusia tidak lain adalah sekumpulan sistem organ yang dapat melakukan kerja fungsi. Dan tidak ada yang disebut hak kemanusiaan dalam definisi manusia dalam biologi, manusia tidak berbeda dengan sebuah mesin yang juga memiliki fungsi, berfungsi untuk menghasilkan sesuatu. Penelaahan biologi sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan membuat kehidupan menjadi miskin makna. Kemiskinan makna apa itu hidup dalam biologi pun semakin tampak ketika dalam biologi hidup yang lebih berharga adalah kehidupan dipandang dari sisi manusia saja. Hewan – hewan dan tumbuhan dipandang sebagi entitas “hidup” yang tidak bernilai sejauh tidak bermanfaat bagi manusia, bahkan “hidup” dari entitas makhluk hidup lain dapat direnggut bagi “hidup-nya manusia”. Di sinilah dalam biologi perlu direnungkan kembali apa yang didefinisikan sebagai hidup. Seperti contoh Sergei Bruyukhonenko: The Dog Decapitator, percobaan gila Bruyukhonenko pada anjing mengarah pada prosedur pengembangan jantung terbuka. Ia mengembangkan mesin kasar yang disebut autojektor (jantung dan paru-paru mesin).<br />
Dengan menggunakan mesin primitif ini, Bryukhonenko menjaga beberapa kepala anjing tetap hidup. Pada tahun 1928, ia menunjukkan salah satu kepala di depan penonton. Untuk membuktikan itu nyata, ia memukul-mukul palu di atas meja. Kepala itu tersentak. Ketika mata kepala anjing itu disinari cahaya, matanya berkedip. Dan ketika diberi makan sepotong keju, sisanya segera keluar dari kerongkongan, yang membuat banyak penonton terpukau namun juga jijik dan tidak senang. Sumber –(Source (blog-apa-aja.blogspot.com) : <a href="http://blog-apa-aja.blogspot.com/2010/04/10-ilmuwan-tersadis-sepanjang-sejarah.html#ixzz185blR97Z">10 Ilmuwan Tersadis Sepanjang Sejarah</a> ).</p>
<p>Sekalipun kehadiran Bioetika menyebabkan pertimbangan-pertimbangan moral dalam biologi, namun tetap pada hakikatnya biologi tidak dapat membahas moral secara tersendiri. Untuk itulah perlu adanya interdisiplin ilmu. Tapi bukan berarti maka biologi menjadi ilmu yang tidak bermanfaat, tentu salah. Biologi tentu tetap ilmu yang sangat bermanfaat, karena biologi memberikan banyak sumbangsih bagi kesejehateraan hidup itu sendiri, baik bagi manusia, hewan, maupun lingkungan hidup. Dan dampak positif ini perlu dijaga dengan adanya interdisiplin ilmu, biologi harus menggunakan bioetika, yaitu etika terapan yang berhubungan dengan praktik kegiatan biologi.</p>
<p><strong>H.   </strong><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dari pembahasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :</p>
<p>1.    Biologi bukanlah ilmu yang membahas kehidupan secara komprehensif, karena biologi hanya membahas kehidupan yang bersifat mekanistis.</p>
<p>2.    Kehidupan yang dibahas dalam biologi adalah kehidupan yang bersifat semu (<em>pseudo</em>), yaitu mekanistik tanpa pembahasan mengenai makna dan nilai dari kehidupan itu sendiri.</p>
<p>3.    Biologi yang menganut paham positivisme dalam mencari apa yang dsiebut kebenaran tidak dapat menjelaskan masalah nilai yang juga bagian penting dalam kehidupan karena nilai kehidupan  tidak dapat diobservasi melalui metodologi ilmu empiris.</p>
<p>4.    Kehidupan menjadi semakin miskin maknanya, ketika ada pengorbanan makhluk hidup lain atas nama demi kebaikan kehidupan umat manusia.</p>
<p>5.    Untuk mempertahankan dampak positif dari biologi itu sendiri dan mengurangi resiko negatif, maka biologi harus melakukan pencampuran antara bioetika dan biologi, dan biologi harus bisa mengakui dan memasukkan nilai-nilai moral yang pembahasannya metafisis dalam ranahnya yang empiris.</p>
<p><strong>I.      </strong><strong>Saran / Alternatif Solusi</strong></p>
<p>1.     Saran/alternatif solusi yang ditawarkan adalah perumusan ulang apa yang disebut biologi. Biologi tidak lagi dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan, karena jika ditelaah lebih lanjut, biologi hanya akan berujung pada pereduksian apa yang disebut kehidupan, kehidupan hanya sebatas yang bersifat mekanis. Tetapi apa yang dipelajari dalam biologi tidaklah salah. Biologi harus segera dirumuskan kembali pengertiannya bahkan mungkin dapat mengganti nama biologi (isitlah biologi dirasa sudah tidak tepat) dengan tepat dan kritis sesuai dengan objek dan apa yang dikaji.</p>
<p>2.    Harus ada interdispliner ilmu dalam biologi, perlu adanya kewajiban <em>scientist</em> biologi untuk tunduk pada Bioetika, dalam observasinya, dan harus ada rekonstruksi ulang tentang apa itu hidup.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=4&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/tinjauan-kritis-atas-disiplin-ilmu-pseudo-biologi-ilmu-kehidupan-semu-biologi-sebagai-ilmu-mekanistis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0893f2e84a05256d2d4806dfcb5bed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">donaniagaradinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/hello-world/</link>
		<comments>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 10:47:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>donaniagaradinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post. Here are some suggestions &#8230; <a href="http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/hello-world/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=1&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit <a title="Direct link to the Add New in the Admin Dashboard" href="/wp-admin/post-new.php">Add New</a> on the left (of the <a title="Direct link to this blog's admin dashboard" href="/wp-admin">admin dashboard</a>) to start a fresh post.</p>
<p><a title="Learn WordPress.com—From zero to hero." href="http://learn.wordpress.com/">Here</a> are some suggestions for your first post.</p>
<ol>
<li>You can find new ideas for what to blog about by reading <a title="The Daily Post at WordPress.com—post something every day" href="http://dailypost.wordpress.com/">the Daily Post</a>.</li>
<li>Add <a title="Click the &quot;Press This&quot; link on this page to activate the Press this bookmark feature." href="/wp-admin/tools.php">PressThis</a> to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.</li>
<li><a title="Edit the first post on this blog." href="/wp-admin/post.php?post=1&amp;action=edit">Make some changes to this page</a>, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/donaniagaradinatawall.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=donaniagaradinatawall.wordpress.com&amp;blog=26250829&amp;post=1&amp;subd=donaniagaradinatawall&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://donaniagaradinatawall.wordpress.com/2011/08/16/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0893f2e84a05256d2d4806dfcb5bed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">donaniagaradinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
